— Manajer Manchester City, Pep Guardiola, mengungkapkan bahwa faktor emosional menjadi penyebab utama kekalahan telak timnya 0-3 dari Real Madrid dalam pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Santiago Bernabeu.

Meskipun mengakui kualitas Real Madrid, Guardiola menyatakan bahwa timnya kehilangan kendali permainan karena emosi yang berlebihan setelah kebobolan gol pertama.

Kekalahan ini menempatkan Manchester City dalam posisi sulit untuk leg kedua yang akan berlangsung di Etihad Stadium. Federico Valverde menjadi bintang dalam pertandingan tersebut dengan mencetak hat-trick di babak pertama, sementara Vinícius Júnior gagal memanfaatkan penalti di babak kedua yang bisa saja memperlebar keunggulan Real Madrid.

Guardiola sendiri mengakui bahwa peluang timnya untuk lolos kini “tidak banyak”, namun ia menegaskan bahwa timnya akan tetap berjuang.

Analisis Pertandingan dan Gol-Gol Krusial

Guardiola mengakui bahwa Manchester City memulai pertandingan dengan baik, terutama pada 19-20 menit pertama sebelum gol pertama tercipta. Ia menggambarkan periode tersebut sebagai salah satu penampilan terbaik timnya di Bernabeu, di mana mereka menunjukkan niat menyerang yang kuat dan menciptakan ancaman.

Namun, segalanya berubah setelah gol pembuka Real Madrid pada menit ke-20. “Setelah itu, emosi mulai menguasai kami, kami kebobolan satu gol, dan segera saja permainannya menjadi sangat berbeda,” ujar Guardiola, seperti dikutip dari MARCA.

Ia menambahkan bahwa timnya berhenti mengontrol transisi dan bola-bola kedua setelah kebobolan, yang menjadi masalah besar ketika menghadapi tim berkualitas seperti Real Madrid.

Gol pertama terjadi melalui skema serangan balik cepat. Setelah menguasai bola dari tendangan gawang Thibaut Courtois, bola diarahkan ke Valverde yang berhasil mengelabui Nico O’Reilly dan Gianluigi Donnarumma sebelum menceploskan bola ke gawang kosong.

Tujuh menit kemudian, Vinícius Júnior memberikan umpan kepada Valverde yang berhasil melewati jebakan offside dan mencetak gol keduanya. Hat-trick Valverde dilengkapi pada menit ke-42 setelah menerima umpan dari Brahim Díaz, menutup babak pertama dengan skor 3-0 untuk keunggulan Real Madrid.

Penyesalan Guardiola atas Keputusan Taktis dan Pemain

Manajer asal Spanyol itu juga mengomentari beberapa keputusan taktisnya, termasuk pemilihan pemain yang menuai kritik. Guardiola mengakui bahwa ia tidak bisa menyenangkan semua orang dengan pilihan starting line-up-nya.

“Saya tidak punya perasaan bahwa permainan kami seburuk yang ditunjukkan oleh hasil akhir,” katanya. “Kami masih memiliki 90 menit lagi. Saya merasa pertandingan itu tidak seburuk hasil yang ditunjukkan,” jelas Guardiola, menegaskan bahwa timnya masih percaya bisa merespons di leg kedua.

Salah satu momen yang disorot Guardiola adalah keputusan penalti yang diberikan kepada Real Madrid. Ia merasa bahwa kiper Gianluigi Donnarumma tidak melakukan pelanggaran terhadap Vinícius Júnior. “Gigio menyentuh bola. Itu bukan penalti,” tegasnya.

Ia juga sempat mengkritik beberapa keputusan wasit di masa lalu yang menurutnya telah “menghancurkannya” dalam pertandingan Liga Champions.

Guardiola juga membela pemilihan pemainnya, termasuk memainkan tiga pemain sayap seperti Jérémy Doku, Savinho, dan Antoine Semenyo.

“Saya ingin mereka agresif di sisi luar satu lawan satu, Jérémy luar biasa, kami sedikit lebih kesulitan di sisi kanan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya telah mencapai kotak penalti berkali-kali, namun detail terakhir dalam penyelesaian akhir yang kurang.

Peluang Tipis dan Harapan untuk Leg Kedua

Menghadapi situasi tertinggal tiga gol, Guardiola menyadari betapa sulitnya membalikkan keadaan. “Peluang kami tidak terlalu bagus, bukan?” katanya. “Namun lebih baik tertinggal 0-3 daripada 0-4. Tentu saja, kami akan memberikan segalanya.”

Meskipun demikian, ia berjanji bahwa Manchester City akan tetap berjuang di leg kedua. “Kita akan lihat [di Etihad]. Sekarang kami memulihkan diri secara mental dan fisik, lalu kami akan bermain melawan West Ham,” ujar Guardiola.

Ia berharap dukungan penuh dari para penggemar di kandang sendiri dapat memberikan energi tambahan bagi timnya untuk mencoba membalikkan keadaan.

Bernardo Silva, kapten Manchester City, juga mengakui bahwa emosi memainkan peran besar dalam kekalahan tersebut. “Lingkungan [stadion] kami tidak bisa kendalikan dan tim saya membiarkan emosi mengubah permainan,” kata Silva.

“Kami merasa nyaman tetapi setelah kebobolan yang pertama, kami kehilangan kendali sepenuhnya, berhenti mengontrol transisi dan bola-bola kedua. Ketika Anda bermain melawan Real Madrid dengan kualitas yang mereka miliki, Anda harus membayar harganya.”