— Mantan bos tim Haas di Formula 1, Guenther Steiner, resmi memulai petualangan barunya di MotoGP setelah mengambil alih tim satelit KTM, Tech3 KTM. Kehadirannya di paddock MotoGP Thailand 2026 menjadi sorotan, bukan hanya karena statusnya sebagai figur besar F1, tetapi juga karena pernyataannya soal perbedaan mencolok antara dua ajang balap paling bergengsi tersebut.

Steiner memimpin konsorsium investor yang juga didukung pembalap Formula 1 Pierre Gasly dalam proses akuisisi Tech3 dari Herve Poncharal pada paruh akhir musim 2025. Ia kini menjabat sebagai CEO, sementara posisi team principal dipercayakan kepada Richard Coleman.

Skala Tim Jadi Perbedaan Utama

Dalam wawancara di paddock Buriram, Steiner menyoroti perbedaan paling nyata antara MotoGP dan Formula 1 adalah ukuran organisasi tim.

Menurutnya, tim F1 bisa melibatkan ratusan hingga lebih dari seribu personel dalam satu struktur, mencakup divisi aerodinamika, mesin, strategi, hingga manufaktur internal. Sementara di MotoGP, jumlah personel jauh lebih sedikit dan struktur lebih ramping.

“Jumlah orangnya jauh lebih sedikit di MotoGP. Bukan berarti lebih sederhana, karena tetap kompleks. Tapi skalanya berbeda,” ujar Steiner yang kami kutip dari MotoGPNews.com, Selasa, (3/3).

Ia menegaskan bahwa meski ukuran tim berbeda, tekanan dan tantangan dasarnya tetap sama.

“Tidak pernah punya cukup waktu, tidak pernah cukup cepat, dan tidak pernah punya cukup uang. Semua orang ingin membelanjakan lebih banyak untuk menjadi lebih kompetitif. Itu dunia balap,” katanya.

Tantangan Adaptasi di Lingkungan Baru

Steiner dikenal luas saat memimpin Haas F1 Team sejak debut tim tersebut di Formula 1 pada 2016 hingga awal 2024. Pengalamannya dalam mengelola tim dengan struktur besar kini diuji dalam format MotoGP yang lebih ringkas namun tetap intens secara teknis.

Berbeda dengan F1 yang menerapkan batas anggaran ketat (budget cap), MotoGP memiliki regulasi finansial yang berbeda dan pengembangan motor bisa berlangsung lebih fleksibel sepanjang musim. Hal ini, menurut Steiner, membuka ruang manuver berbeda dalam strategi pengembangan.

Namun, ia juga mengakui bahwa bekerja dengan sumber daya manusia yang lebih terbatas menuntut efisiensi ekstra.

Debut yang Tidak Ideal di Thailand

Awal era baru Tech3 di bawah kepemimpinan Steiner belum membuahkan hasil maksimal. Dalam balapan di Buriram, duo pembalap Maverick Vinales dan Enea Bastianini gagal menembus 10 besar.

Vinales secara terbuka mengaku frustrasi dengan performa motor RC16, terutama karena hasil tes pramusim di sirkuit yang sama sempat menunjukkan potensi lebih baik. Sementara Bastianini menjadi pembalap Tech3 terbaik di Thailand, meski tetap belum mampu bersaing di barisan depan.

Di sisi lain, pembalap KTM lainnya, Pedro Acosta, tampil impresif dengan paket motor serupa, mempertegas bahwa tantangan utama bukan hanya soal mesin, tetapi juga adaptasi dan konsistensi performa.

Ujian Awal Era Steiner

Masuknya Steiner ke MotoGP membawa pendekatan manajemen khas Formula 1 ke paddock roda dua. Namun, ia menegaskan bahwa inti balap tetap sama: efisiensi, kecepatan pengambilan keputusan, dan pengembangan berkelanjutan.

Dengan musim 2026 yang masih panjang, hasil beberapa seri ke depan akan menjadi tolok ukur apakah pendekatan Steiner mampu membawa stabilitas dan peningkatan performa bagi Tech3.

Untuk saat ini, Steiner memilih realistis. Ia menyadari perbedaan skala antara MotoGP dan F1, tetapi juga menegaskan bahwa tekanan, ekspektasi, dan ambisi untuk menang tetap identik di kedua dunia tersebut.