Ihram.co.id — Istilah “emas orang miskin” yang selama berdekade-dekade melekat pada perak kini mulai luntur. Di tengah rekor kenaikan harga emas yang kian sulit dijangkau, Generasi Z (Gen Z) justru menemukan celah keuntungan baru pada logam putih ini. Bukan dalam bentuk perhiasan, melainkan perak fisik batangan (bullion) dan koin murni.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Bagi anak muda yang baru memulai karier dengan modal terbatas, perak menawarkan ambang batas masuk (entry barrier) yang jauh lebih ramah di kantong dibandingkan emas, namun dengan potensi pertumbuhan yang tak kalah agresif.
Modal “Receh” untuk Aset Berharga
Alasan utama pergeseran ini adalah aksesibilitas harga. Berdasarkan pantauan harga di berbagai platform perdagangan logam mulia, satu gram emas kini telah menembus angka Rp1,5 juta hingga Rp2,7 juta tergantung fluktuasi global. Angka ini sering kali dianggap terlalu berat bagi investor pemula dari kalangan mahasiswa atau fresh graduate.
Sebagai perbandingan, harga perak murni masih berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp25.000 per gram. Dengan uang Rp500.000, seorang investor hanya bisa mendapatkan butiran debu emas (sekitar 0,3 gram), namun mereka bisa membawa pulang lebih dari 20 gram perak fisik.
“Kalau beli emas rasanya kemahalan dan cuma dapat sedikit. Dengan modal yang sama, saya bisa punya perak batangan yang terasa wujud fisiknya. Ini lebih memuaskan secara psikologis bagi saya,” ujar Indah, seorang investor Gen Z asal Serang sebagaimana dikutip dari radarbanten.co.id, Senin (10/11/2025).
Efek “Silver-Gold Ratio” dan Volatilitas Tinggi
Secara historis, pergerakan harga perak sering kali mengekor emas, namun dengan volatilitas yang lebih tinggi. Artinya, saat harga emas naik 10 persen, perak punya kecenderungan untuk melonjak lebih dari 20 persen. Karakteristik “high risk, high return” inilah yang sangat disukai oleh Gen Z yang cenderung lebih berani mengambil risiko demi keuntungan cepat.
Pengamat pasar sering merujuk pada Silver-Gold Ratio—indikator yang menunjukkan berapa banyak perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas. Ketika rasio ini melebar, perak dianggap sedang “salah harga” atau sangat murah dibandingkan emas, sehingga menjadi sinyal beli yang kuat bagi para pemburu cuan.
“Jika emas mengalami kenaikan harga dua kali lipat, bukan hal yang mustahil bagi perak untuk melonjak hingga tiga kali lipat,” tulis laporan riset yang dilansir dari antaranews.com, Senin (30/12/2025).
Perak Sebagai Komoditas Teknologi Masa Depan
Berbeda dengan emas yang sebagian besar nilainya didorong oleh sentimen psikologis dan cadangan devisa bank sentral, perak memiliki fungsi ganda sebagai komoditas industri. Lebih dari 50 persen permintaan perak global berasal dari sektor teknologi, terutama pembuatan panel surya (fotovoltaik), komponen kendaraan listrik (EV), dan semikonduktor.
Gen Z, yang dikenal sangat peduli pada isu lingkungan dan teknologi, melihat investasi perak sebagai cara untuk mendukung ekonomi hijau. Selama dunia masih memproduksi panel surya untuk transisi energi, permintaan perak diprediksi akan terus tumbuh meski ekonomi sedang goyang.
Data dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menunjukkan lonjakan signifikan pada nilai perdagangan pasar fisik logam mulia secara digital maupun fisik sepanjang tahun 2025, yang mencapai Rp115,6 triliun, tumbuh lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini mempertegas bahwa aset berwujud fisik kembali menjadi primadona di mata anak muda sebagai benteng terhadap inflasi, dilansir dari kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Estetika Modern yang “Edgy”
Selain aspek finansial, perak juga menang di sisi gaya hidup. Bagi Gen Z, warna perak yang netral, minimalis, dan sleek dianggap lebih modern dan “edgy” dibandingkan emas yang sering diasosiasikan dengan gaya tradisional atau kuno.
Pilihan untuk mengoleksi koin perak edisi terbatas atau batangan dengan desain artistik kini menjadi kebanggaan tersendiri yang sering dipamerkan di media sosial. Investasi perak bukan lagi sekadar soal menyimpan nilai, tapi telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas finansial yang cerdas dan melek teknologi.
Meskipun menjanjikan, para ahli tetap mengingatkan bahwa investasi perak memiliki risiko likuiditas. Berbeda dengan emas yang bisa dijual di hampir semua toko perhiasan pasar tradisional, perak fisik biasanya membutuhkan kanal khusus seperti butik logam mulia resmi atau bursa berjangka agar mendapatkan harga jual kembali (buyback) yang optimal.
Ikuti Ihram.co.id
