harga perak dunia mencatatkan penurunan harian terdalam sepanjang sejarah pada perdagangan Jumat (30/1/2026). Berdasarkan data Refinitiv, harga spot perak merosot 27,12 persen dalam satu hari ke level US$84,62 per troy ounce dari posisi hari sebelumnya yang berada di angka US$116,12.

Koreksi ekstrem tersebut menghapus lebih dari seperempat nilai perak hanya dalam hitungan jam. Penurunan ini sekaligus melampaui rekor koreksi harian terburuk yang pernah terjadi pada tahun 1982.

Pemicu Anjloknya Harga dan Faktor Sentimen

Pembalikan tren harga perak dipicu oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Federal Reserve. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar mengenai independensi bank sentral AS dan memicu penguatan nilai tukar dolar.

Indeks dolar tercatat menguat mendekati 1 persen pada hari yang sama. Penguatan mata uang AS ini membuat komoditas logam mulia, termasuk perak, menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang non-dolar, sehingga memberikan tekanan tambahan pada harga pasar.

Sebelum jatuh, harga perak sempat mengalami reli agresif sejak pertengahan Januari 2026. Harga naik dari kisaran US$85 pada 12 Januari hingga menyentuh rekor tertinggi di level US$116,58 pada 28 Januari. Arus dana spekulatif, lonjakan harga emas, serta ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama kenaikan harga selama periode tersebut.

Baca juga Bukan Lagi Logam Pelengkap, Perak Kini Jadi Komoditas Strategis Era AI dan EV

Mekanisme Pasar dan Fenomena Forced Selling

Struktur kenaikan harga perak dinilai rapuh karena didominasi oleh pedagang jangka pendek dengan posisi leverage tinggi. Ketika harga mulai berbalik arah secara tajam, terjadi penyebaran margin call yang memaksa pelaku pasar melakukan aksi jual atau forced selling.

Pada titik terendah perdagangan harian (intraday), harga perak sempat menyentuh area US$77 hingga US$78 per troy ounce. Level harga tersebut merupakan titik yang terakhir kali terlihat sebelum perak mengalami reli parabolik pada awal Januari.

Katy Stoves, investment manager di Mattioli Woods, menyatakan bahwa kejatuhan harga ini mencerminkan proses evaluasi ulang terhadap risiko konsentrasi posisi. “Ketika sebuah aset dipenuhi posisi searah dan narasi terlalu dominan, bahkan aset yang secara fundamental solid pun tetap rentan terhadap unwind besar-besaran,” ujar Stoves melalui CNBC International.

Kinerja Mingguan dan Bulanan

Dalam kurun waktu sepekan terakhir, harga perak secara total telah ambruk sebesar 17,8 persen. Penurunan tajam ini sekaligus mengakhiri tren kenaikan yang sempat berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.

Meski mengalami koreksi besar pada akhir pekan, perak tetap mencatatkan kinerja positif secara kumulatif sepanjang bulan Januari 2026. Harga tercatat masih menguat antara 16,7 persen hingga 17 persen dibandingkan posisi awal tahun, didukung oleh minat terhadap aset aman (safe haven) di tengah kebijakan tarif AS dan ketidakpastian moneter global.

Sejumlah pelaku pasar menganggap koreksi ini sebagai bagian dari normalisasi pasar. Penyesuaian posisi ini dinilai sebagai langkah untuk mengurangi muatan spekulasi yang menumpuk terlalu cepat agar tren harga jangka menengah dapat kembali sehat.

Informasi mengenai pergerakan harga pasar, data historis, dan analisis komoditas tersebut dihimpun berdasarkan laporan dari Refinitiv dan CNBC International.