PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) akan melaksanakan penawaran tender wajib (mandatory tender offer/MTO) atas 900 juta saham atau 28,57% kepemilikan di PT Personel Alih Daya Tbk (PADA). Harga yang ditetapkan adalah Rp63 per saham, sama dengan harga akuisisi yang dipakai INET saat menguasai PADA.
Chief INET menyatakan MTO itu merupakan kewajiban setelah perseroan menjadi pengendali mayoritas PADA sesuai ketentuan POJK No.9/2018. Akuisisi sebelumnya melibatkan pembelian 1,68 miliar saham atau 53,57% saham PADA dari PT Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat) dengan nilai transaksi Rp106,39 miliar.
Harga tender Rp63 per saham akan diterapkan untuk 900 juta saham yang dimiliki publik, sehingga nilai maksimal penawaran mencapai sekitar Rp56,7 miliar. Manajemen INET juga menyebutkan perseroan memiliki dana yang cukup untuk menyelesaikan pembayaran tender wajib, yang bersumber dari kas internal sesuai surat pernyataan pengendali baru pada 4 Februari 2026.
Manajemen menekankan harga penawaran ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga tertinggi perdagangan harian saham PADA di Bursa Efek Indonesia selama 90 hari terakhir—periode 29 Juli 2025 hingga 26 Oktober 2925—yang tercatat sebesar Rp59,10 per saham.
Tender wajib ini mengecualikan Sigit Kuntjahjo yang memegang 364 juta saham atau setara 11,57% saham PADA. Pengecualian tersebut berdasarkan ketentuan pasal 7 ayat (1) huruf b angka 2 POJK No.9/2018, karena INET selaku pengendali baru telah memberikan penawaran dengan syarat dan kondisi yang sama.
Periode penawaran dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni sampai 17 Juli 2026, dan pembayaran dijadwalkan pada 21 Juli 2026. INET menunjuk PT Yakin Bertumbuh Sekuritas (YB Sekuritas) sebagai perusahaan efek yang menangani proses tender wajib ini.
Pemain Kakap
INET beroperasi di industri infrastruktur digital yang kompetitif dan menegaskan posisinya sebagai pemain besar dengan ekosistem terpadu. Perseroan menilai kekuatan mereka tidak hanya pada jaringan backbone, tetapi juga pada segmen wholesale, enterprise, dan ritel.
Direktur Utama INET Muhammad Arif mengatakan perusahaan tidak sekadar berbisnis jangka pendek. “Jadi, kami bukan trading company yang hari ini berjualan, besok langsung dapat untung. Kami mau membangun infrastruktur digital yang berkelanjutan dan jangka panjang tentu dengan ekosistem yang lengkap,” ujarnya saat berbicara di Samuel Sekuritas.
Arif menyebutkan INET sudah mulai merealisasikan target tersebut, termasuk memiliki kabel bawah laut yang menghubungkan Jakarta-Batam-Singapura. Menurutnya, kepemilikan aset submarine penting karena tidak semua pemain mampu memasuki segmen ini—mulai dari modal hingga kompetensi operasional.
“Investasi di submarine positif bagi INET karena kami menyadari Indonesia merupakan negara kepulauan dan setelah kami petakan, usia kabel bawah laut di Indonesia juga rata-rata sudah berumur. Jadi, kebutuhan submarine cable tentu lebih banyak lagi ke depannya,” kata Arif.
Ikuti Ihram.co.id
