— Kondisi perekonomian Iran berada di ambang kehancuran total menyusul krisis moneter hebat yang memicu gejolak sosial di berbagai penjuru negeri.

Situasi kian mencekam setelah pemerintah setempat melakukan tindakan represif terhadap massa aksi, yang dilaporkan mengakibatkan 24 ribu demonstran tewas dalam dua pekan terakhir.

Gelombang protes massal ini mulai pecah sejak akhir Desember 2025, dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang Iran ke titik nadir. Ribuan warga yang turun ke jalan menjadi sinyal ancaman paling serius bagi stabilitas rezim penguasa dalam beberapa tahun terakhir.

Nilai Tukar Rial Mencapai Titik Terendah Sepanjang Sejarah

Keruntuhan ekonomi Iran tercermin paling nyata melalui nilai tukar Rial Iran yang terjun bebas terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Data Morningstar mencatat, pada pertengahan Desember 2025, nilai rial masih bertengger di angka 42 ribu per dolar AS.

Namun, dalam waktu singkat, nilai tersebut merosot tajam hingga menembus angka 1,1 juta rial per dolar AS. Bahkan, pada beberapa hari lalu, mata uang Iran mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah dengan menyentuh level 1,4 juta rial per dolar AS.

Kondisi ini membuat nilai uang warga Iran menjadi hampir tidak berharga untuk transaksi internasional.

Selain depresiasi mata uang, inflasi yang tidak terkendali dan lonjakan harga pangan menjadi faktor utama yang melumpuhkan sendi-sendi ekonomi negara tersebut.

Inflasi Tak Terkendali Hampir Menyentuh 50 Persen

Iran telah menderita tekanan inflasi tinggi secara terus-menerus dalam beberapa tahun terakhir, namun tingkat kenaikan harga dalam 12 bulan terakhir mencapai level yang mengkhawatirkan.

Data Pusat Statistik Iran menunjukkan lonjakan inflasi yang sangat signifikan.

Inflasi melonjak dari 31,8 persen pada Januari 2025 menjadi 48,6 persen pada Oktober di tahun yang sama.

Adapun data terakhir pada Desember 2025 menunjukkan angka inflasi masih bertahan di atas 42 persen.

Berdasarkan catatan Bank Dunia pada 2024, inflasi tahunan Iran yang melebihi 32 persen menempatkan negara ini di peringkat kesembilan tertinggi di dunia.

Tren buruk ini sebenarnya bukan hal baru, sebab sejak 2008, Iran hanya mampu menjaga inflasi di bawah level 25 persen selama lima kali dari periode 16 tahun terakhir.

Tabungan Warga Terkikis Akibat Suku Bunga Rendah

Kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi terus-menerus mengakibatkan tabungan serta daya beli masyarakat merosot tajam.

Fenomena ini memicu kemarahan kolektif, termasuk para pemilik toko yang merasa dirugikan oleh jatuhnya nilai mata uang pada akhir Desember lalu.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dilaporkan telah menginstruksikan adanya pembayaran kompensasi bulanan kepada warga. Langkah ini diambil sebagai bentuk pengakuan pemerintah bahwa rakyat saat ini sedang berada dalam kondisi menderita.

Upaya warga untuk melindungi nilai kekayaan mereka lewat perbankan pun menemui jalan buntu.

Bank Sentral Iran mempertahankan suku bunga pada level 23 persen, angka yang terpaut jauh di bawah tingkat inflasi.

Kesenjangan antara suku bunga bank dan laju inflasi ini memastikan bahwa daya beli uang tunai masyarakat dalam mata uang lokal akan terus tergerus seiring berjalannya waktu. Hal ini menciptakan rasa frustrasi mendalam di kalangan pemilik modal dan rakyat kecil.

Krisis Pangan dan Kegagalan Sektor Pertanian

Runtuhnya rial membawa dampak sistemik terhadap impor kebutuhan pokok. Direktur Pelaksana Zero Currency, Simon Phillips, menyatakan bahwa krisis mata uang ini adalah pemantik yang membakar kemarahan rakyat Iran terhadap pemerintah.

“Rial telah melemah selama bertahun-tahun, terhambat oleh dugaan korupsi yang meluas di Iran dan sanksi internasional dari luar. Mata uang yang lemah membuat impor menjadi lebih mahal, padahal Iran mengimpor banyak kebutuhan pokok, termasuk makanan dan obat-obatan,” ujar Phillips.

Dalam enam bulan terakhir, nilai rial telah merosot hingga 64 persen, yang secara otomatis melambungkan harga bahan pangan strategis seperti gandum dan minyak goreng. Kondisi ini diperparah oleh faktor alam yang tidak mendukung produktivitas domestik.

Sektor pertanian Iran dilaporkan gagal memenuhi kebutuhan pangan nasional setelah didera kekeringan selama lima tahun berturut-turut.

Ketidakmampuan memproduksi pangan sendiri, ditambah mahalnya harga impor, menciptakan rasa putus asa yang akhirnya meledak dalam bentuk protes massa.

Jalan Buntu Menuju Stabilitas Ekonomi

Ahli Strategi Investor di Saxo UK, Neil Wilson, menilai Iran saat ini berada dalam posisi terjepit tanpa jalan keluar yang jelas untuk memulihkan stabilitas ekonomi. Ia menyebut rial sudah kehilangan fungsinya sebagai alat tukar yang stabil.

“Sebagai mata uang, rial praktis tidak berharga sekarang. Ketidakstabilan ekstrem di dalam negeri, mendekati keruntuhan ekonomi, dan terhambatnya ekspor minyak berarti mata uang itu tidak memiliki nilai riil,” kata Wilson.

Wilson menambahkan bahwa masalah ekonomi ini sudah melampaui solusi teknis seperti redenominasi atau pemotongan angka nol pada mata uang. Menurutnya, redenominasi hanya akan menjadi solusi kosmetik di tengah hiperinflasi yang sedang terjadi.

Saat ini, rezim Iran berada dalam kondisi terisolasi dari sistem keuangan global dan hanya bergantung pada perdagangan terbatas dengan Rusia dan China. Tanpa adanya stabilitas politik dan berakhirnya keresahan sosial, rial diprediksi akan tetap tidak memiliki nilai di pasar keuangan internasional.