Pep Guardiola mengungkapkan alasan di balik masa jabatannya yang panjang sebagai manajer Manchester City di tengah gelombang pemecatan pelatih di Premier League. Hingga awal tahun 2026, Guardiola tercatat sebagai manajer paling awet setelah menangani The Citizens selama sembilan setengah tahun sejak Juli 2016.

Gelombang pemecatan melanda sejumlah klub besar Inggris pada awal tahun ini. Chelsea resmi berpisah dengan Enzo Maresca, sementara Manchester United mencopot Ruben Amorim dari kursi manajer. Tren ini menambah daftar panjang pelatih yang kehilangan pekerjaan sejak awal musim, termasuk Nuno Espirito Santo, Graham Potter, hingga Ange Postecoglou.

Faktor Hasil dan Koleksi Trofi

Guardiola menegaskan bahwa keberhasilannya bertahan di Stadion Etihad bukan karena rahasia khusus, melainkan murni karena pencapaian di lapangan. Selama masa baktinya, ia telah mempersembahkan 18 gelar juara, termasuk keberhasilan meraih treble bersejarah dan mendominasi kompetisi domestik.

“Hasil, hasil. Jika Anda tidak menang, Anda dipecat. Jika kami tidak menang, saya akan dipecat. Kami memenangi banyak trofi, itulah mengapa saya masih duduk di sini. Tidak ada rahasia lain,” ujar Guardiola seperti dikutip dari BBC.

Pelatih asal Spanyol tersebut mengakui bahwa kesabaran manajemen klub juga dipengaruhi oleh kesuksesan di masa lalu. Meskipun Manchester City sempat melewati periode sulit selama tiga bulan, rekam jejak prestasi yang telah dibangun membuatnya tetap mendapatkan kepercayaan penuh dari pemilik klub.

Perbandingan dengan Mikel Arteta di Arsenal

Di bawah Guardiola, Mikel Arteta menempati posisi kedua sebagai manajer terlama dengan masa jabatan sekitar enam tahun di Arsenal. Namun, alasan bertahannya Arteta dianggap berbeda dengan situasi yang dialami Guardiola di Manchester City.

Arteta sejauh ini baru mempersembahkan satu trofi Piala FA dan dua gelar Community Shield untuk The Gunners. Meski koleksi trofinya belum sebanyak Guardiola, Arteta dinilai sukses membangkitkan performa Arsenal hingga mampu bersaing ketat dalam perebutan gelar juara Liga Inggris selama tiga musim terakhir.