Lakon Indonesia menandai usia delapan tahun dengan pameran mini yang merangkum perjalanan kreatif dan komitmennya terhadap wastra Nusantara. Instalasi menampilkan delapan koleksi yang sekaligus menjadi upaya merawat kain tradisional, menghidupkan perajin serta mengurangi sampah fashion melalui pemanfaatan sisa kain.
Peragaan dan instalasi tersebut memamerkan koleksi dari 2020 sampai 2026, termasuk koleksi perdana Pakaiankoe dan rangkaian tema yang mengangkat batik, tenun, dan teknik jahit patchwork sebagai cara menjaga nilai budaya sekaligus merespons isu produksi tekstil.
Jejak Koleksi dan Misi Lakon
Menurut pendiri Lakon Indonesia, Thresia Mareta, organisasi ini berdiri pada 2018 dengan misi memperkuat industri fashion lokal dan meningkatkan kesejahteraan perajin. Kini, ada 120 brand yang terafiliasi dengan Lakon sebagai bagian dari ekosistem yang dibangun sejak awal.
Thresia menyatakan bahwa pada tahap awal Lakon belum bisa menampilkan koleksi berbahan kain tradisional secara menyeluruh, namun seiring waktu upaya itu terus dilengkapi hingga mampu mempresentasikan karya-karya berbasis wastra.
Koleksi-Koleksi Penting
Pakaiankoe (2020) menjadi koleksi pembuka yang dipresentasikan pada 15 November 2020. Bertema A Journey to Java, koleksi ini menghidupkan kembali warisan tekstil dan kerajinan Jawa dengan pendekatan modern.
Gantari (2021) dipentaskan pada 9 Oktober 2021 di Candi Prambanan dalam rangka Hari Batik Nasional. Koleksi bertema The Final Journey to Java ini memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik perajin Jawa dengan siluet modern sebagai penghormatan pada wastra.
Aradhana (2021), bertema Seen and Unseen, menonjolkan proses panjang dan kerja di balik layar para pengrajin. Koleksi ini memuat lebih dari 30 busana ready-to-wear berbahan wastra seperti batik, tenun ikat, songket, dan ulos, sekaligus menekankan riset dan pemberdayaan UMKM.
Koleksi lain yang turut dipamerkan mencakup Lorong Waktu (2022), RIK 062324 L (kolaborasi 2023), The Tailor Made 01 (2023), Pasar Malam (2024), Urub (2025), hingga Koleksi Anniversary Lakon ke-8 (2026).
Strategi Mengurangi Sampah Fashion
Lakon Indonesia menerapkan praktik fashion berkelanjutan, salah satunya melalui konsep padu padan untuk menghemat penggunaan busana dan mengolah sisa kain menjadi produk bernilai. “Di Lakon, kain sisa kalau bisa kami olah menjadi sesuatu yang berharga,” ujar Thresia.
Praktik pengolahan sisa kain terlihat pada beberapa koleksi, termasuk Aradhana dan Koleksi Anniversary ke-8 (2026) yang menghadirkan outer unik berbahan potongan kain dengan teknik patchwork sehingga setiap produk berbeda satu sama lain.
Artikel ini juga mencatat data persentase limbah tekstil di Indonesia yang disebut mencapai sekitar 2,63% dari total sampah menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, sebagai konteks mengapa pengelolaan sisa kain menjadi penting bagi pelaku industri fashion.
Penguatan Ekosistem Budaya
Selain aspek lingkungan, upaya Lakon menekankan penguatan ekosistem budaya dengan menghubungkan desainer, perajin, dan konsumen. Nama-nama koleksi dan tema yang diangkat dirancang untuk merefleksikan perjalanan budaya, ketahanan pengrajin, dan harapan untuk kelangsungan warisan tekstil Indonesia.
Ikuti Ihram.co.id
