— Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid resmi menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Ketetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan tanggal Lebaran 2026 dilakukan berdasarkan hasil perhitungan hisab hakiki dengan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berdasarkan data Majelis Tarjih, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 01:23:28 UTC.

Baca Juga: Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 2026 pada 18 Februari, Pemerintah Tunggu Sidang Isbat

Muhammadiyah menggunakan acuan Parameter Kalender Global (PKG) 1, yang mensyaratkan adanya wilayah di muka bumi yang memenuhi kriteria sebelum pukul 24:00 UTC pada hari ijtimak. Posisi hilal dilaporkan telah melampaui standar dengan ketinggian di atas 5 derajat dan jarak elongasi minimal 8 derajat.

PP Muhammadiyah merilis maklumat tersebut pada 22 September 2025, atau sekitar enam bulan sebelum hari raya. Pengumuman lebih awal ini bertujuan memberikan kepastian bagi warga persyarikatan dalam melakukan persiapan menyambut Idul Fitri.

Potensi Perbedaan dengan Pemerintah

Terdapat potensi perbedaan satu hari antara ketetapan Muhammadiyah dengan prediksi pemerintah. Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, Idul Fitri 2026 diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Perbedaan ini muncul akibat perbedaan metode penentuan awal bulan kamariah yang digunakan. Pemerintah masih akan memberikan kepastian tanggal resmi melalui sidang isbat pada akhir Ramadan dengan menggabungkan metode pengamatan hilal dan data hisab.

Sikap Toleransi dan Usulan Kebijakan Libur

Menyikapi potensi selisih tanggal, Muhammadiyah menekankan pentingnya sikap toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan metode. Mengedepankan ukhuwah islamiyah dinilai lebih penting daripada memicu perdebatan terkait waktu hari raya di tengah umat.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengusulkan agar pemerintah dapat menetapkan libur Lebaran selama dua hari jika terjadi perbedaan tanggal. Usulan ini dimaksudkan agar umat Islam yang merayakan lebih awal tetap dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk tanpa terbentur jadwal masuk kerja.