— Lini pertahanan PSIS Semarang menjadi perhatian utama usai kekalahan telak 0-3 dari Deltras FC Sidoarjo pada laga pekan ke-16 Pegadaian Championship 2025/2026, Sabtu (17/1). Hasil tersebut dinilai mencerminkan persoalan mendasar di sektor belakang, meski PSIS tampil dengan komposisi pemain yang lebih komplet dibandingkan laga sebelumnya.

Bermain di hadapan tekanan Deltras, PSIS justru kesulitan menjaga organisasi pertahanan. Duet bek tengah berpengalaman Otavio Dutra dan Aldair Simanca yang diplot sebagai tembok utama belum mampu meredam serangan lawan, sehingga gawang PSIS harus kebobolan tiga gol tanpa balas.

Evaluasi Detail Jelang Laga Berikutnya

Pelatih PSIS Semarang, Jafri Sastra, mengakui pertahanan timnya masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Ia menyebut evaluasi dilakukan secara menyeluruh melalui analisis video pertandingan, terutama untuk memperbaiki aspek bertahan dan penyelesaian akhir yang juga dinilai belum optimal.

“Banyak fans yang menyoroti lini belakang, dan itu memang kami sadari. Kami menganalisis lewat video pertandingan, lalu melakukan pembenahan, terutama di aspek pertandingan dan juga finishing yang masih menjadi permasalahan,” ujar Jafri saat ditemui di Lapangan Pongangan, Selasa (20/1) pagi.

Evaluasi tersebut dilakukan jelang laga kandang melawan Persela Lamongan di Stadion Jatidiri, Sabtu (24/1). Jafri menilai waktu persiapan yang tersedia harus dimaksimalkan untuk membenahi kelemahan yang terlihat jelas pada pertandingan sebelumnya.

Di tengah rapuhnya lini belakang, PSIS dikabarkan mulai mempertimbangkan opsi penambahan pemain. Salah satu nama yang mencuat adalah Muhammad Rio Saputro, bek yang baru saja mengundurkan diri dari PSPS Riau dan saat ini berstatus tanpa klub.

Rio bukan sosok asing bagi PSIS. Ia pernah menjadi bagian penting saat tim Mahesa Jenar promosi ke Liga 1 musim 2018. Pengalamannya dinilai bisa menjadi alternatif untuk menambah kedalaman skuad di sektor belakang, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait pendekatan klub.

Masalah Chemistry dan Transisi Permainan

Selain aspek pertahanan, Jafri juga menyoroti kekompakan tim dan transisi permainan yang belum berjalan sesuai rencana. Ia mengakui banyak instruksi yang tidak terealisasi dengan baik saat menghadapi Deltras, meski dalam sesi latihan dan persiapan tidak terlihat kendala berarti.

“Dalam latihan dan persiapan terlihat seperti tidak ada masalah, tapi ternyata ada PR besar karena apa yang sudah kita siapkan tidak berjalan. Ini yang harus kami benahi lagi, termasuk transisi permainan,” jelasnya.

Menjelang duel kontra Persela Lamongan, Jafri menegaskan target kemenangan tetap dipasang meski menyadari kualitas lawan yang berada di atas PSIS di klasemen sementara. Menurutnya, setiap pertandingan di Championship menuntut konsistensi dan fokus tinggi.

“Siapa pun lawannya, target kami tetap menang. Tapi pertandingan tidak semudah yang kita bayangkan. Lamongan tim kuat dan berada di atas kita di klasemen, tentu ini jadi tantangan,” katanya.

Fokus Mental dan Intensitas Latihan

Tak hanya aspek teknis dan taktik, tim pelatih PSIS juga memberi perhatian pada kondisi mental dan psikologis pemain. Dialog rutin dilakukan untuk memastikan program latihan berjalan efektif dan kepercayaan diri pemain kembali terbangun.

“Kami juga benahi dari aspek psikologi. Setiap latihan ada dialog dan komunikasi dua arah, supaya program latihan yang kami siapkan benar-benar tepat dan tidak terulang seperti saat melawan Deltras,” ujar Jafri.

Pantauan di sesi latihan menunjukkan intensitas tinggi dengan upaya membangun chemistry antarpemain. Dalam sesi gim internal, sempat terlihat ketegangan kecil sebagai bagian dari dinamika latihan, yang dinilai staf pelatih sebagai bentuk keseriusan pemain dalam memperbaiki performa tim.

Dengan waktu persiapan sekitar sepekan, PSIS dituntut segera menemukan solusi atas persoalan di lini belakang agar hasil buruk kontra Deltras FC tidak kembali terulang pada laga-laga berikutnya.