Pevoli putri Indonesia, Megawati Hangestri Pertiwi, menyoroti perbedaan signifikan dalam sistem pembinaan olahraga bola voli antara Indonesia dengan negara-negara yang pernah dibelanya seperti Korea Selatan dan Turki. Pengalaman internasionalnya tersebut membawanya pada kesimpulan bahwa pembinaan di luar negeri berjalan lebih berkesinambungan dan terstruktur.
Megawati, yang saat ini memperkuat Jakarta Pertamina Enduro (JPE) di Proliga 2026, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama keunggulan pembinaan di luar negeri adalah adanya kontrak jangka panjang yang diberikan klub kepada pemain. Hal ini berbeda dengan sistem di Indonesia yang cenderung memiliki siklus kontrak lebih pendek.
Pembinaan Berkesinambungan Jadi Kunci
Menurut Megawati, para pemain voli di negara seperti Korea Selatan dan Turki seringkali memiliki kontrak dengan klub yang sama selama bertahun-tahun, bahkan bisa mencapai enam hingga tujuh tahun.
“Karena saya berpengalaman di luar negeri udah pernah main, menurut saya di sana pembinaannya itu terus-terusan,” ujar Megawati, dikutip dari YouTube Moji Social.
“Jadi per tahun itu dia (pevoli) gak ganti klub, jadi dia punya kontrak mungkin tujuh tahun atau enam tahun, jadi pemainnya itu-itu aja dan mungkin dari situ chemistry-nya terbangun jadi gak ada perbedaannya gitu lho setiap tahunnya.”
Model pembinaan ini memungkinkan para atlet untuk membangun kekompakan tim dan pemahaman taktik yang lebih mendalam. Keberlanjutan ini, menurut Megawati, sangat krusial dalam membentuk tim yang solid dan adaptif, termasuk ketika para pemain bergabung dengan tim nasional.
Sistem di Indonesia Belum Stabil
Sebaliknya, Megawati menilai bahwa sistem pembinaan di Indonesia masih menghadapi tantangan stabilitas. Banyak pemain voli di tanah air hanya bertahan satu hingga dua musim di sebuah klub sebelum berpindah ke klub lain.
“Kalau di Indonesia kan ada beberapa yang cuma setahun, dua tahun gitu aja, kalo di sana lebih lama aja pembinaannya dan disediakan mess juga,” pungkas Megawati.
Penyediaan akomodasi seperti mess pemain yang terjamin di luar negeri juga menjadi salah satu fasilitas pendukung yang menurut Megawati belum sepenuhnya merata di Indonesia. Hal ini turut berkontribusi pada perbedaan kualitas dan keberlanjutan pengembangan atlet.
Fokus Proliga 2026 dan Babak Final Four
Saat ini, Megawati tengah fokus membawa Jakarta Pertamina Enduro (JPE) berjuang di babak final four Proliga 2026 yang dijadwalkan akan dimulai pada bulan April mendatang.
Meskipun JPE sempat memimpin klasemen di babak reguler, tim tersebut menutup seri terakhir babak penyisihan dengan kekalahan telak 0-3 dari Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia pada Kamis (26/3/2026) di GOR Padepokan Jenderal Pol Kunarto, Sentul, Bogor. Kekalahan tersebut tidak memengaruhi posisi JPE yang sudah memastikan tiket ke final four.
Meskipun demikian, performa Megawati dalam pertandingan tersebut mendapat sorotan, di mana ia hanya mampu mencetak 4 poin dari tiga set yang dimainkan.
Kehadiran Megawati di JPE merupakan bagian dari strategi tim yang memang diperkuat oleh tiga pemain asing berpengalaman internasional. Selain bermain di Proliga, Megawati juga memiliki rekam jejak gemilang di kancah internasional, termasuk dua musim di V-League Korea Selatan bersama Red Sparks, bermain untuk Manisa BBSK di Liga Voli Turki, serta pernah membela Hà Phú Thanh Hóa di Liga Vietnam dan Supreme Chonburi-E.Tech di Liga Thailand.
Keputusan Megawati untuk kembali memperkuat JPE di Proliga tahun ini didasari oleh kedekatannya dengan tim tersebut sejak awal kariernya di liga domestik.
“Aku lahir di Proliga dengan JPE, terus nggak ada alasan (nolak) juga sih, karena free juga setiap tahunnya. Jadi mau ikut klub mana bisa,” ujarnya jujur, menegaskan bahwa ia tidak terikat kontrak eksklusif dengan klub luar negeri pada periode Proliga.
Ikuti Ihram.co.id
