Harga emas dunia masih berpeluang untuk kembali mencetak rekor tertinggi meski saat ini berada dalam fase konsolidasi. Beberapa faktor fundamental yang mendukung reli logam mulia dinilai belum hilang, termasuk potensi kembalinya pembelian emas oleh bank sentral global.
Harga emas tercatat sempat naik 0,12% ke level US$ 4.336,85 per ons troi. Pada Selasa (16/6/2026), harga emas spot ditutup naik 0,51% menjadi US$ 4.331,23 per ons troi, dan logam mulia sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni pada sesi sebelumnya. Rekor ATH harga emas dunia tercatat di US$ 5.608,35 pada Januari 2026.
Tom Bruce, Strategis Investasi Makro di Tanglewood Total Wealth Management, mengatakan pergerakan emas saat ini lebih mencerminkan jeda setelah reli panjang di awal tahun daripada awal tren penurunan berkepanjangan. Menurut Bruce, dorongan menuju rekor awal tahun lalu banyak dipacu oleh pembelian agresif bank sentral dan upaya beberapa negara mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS.
Namun, sebagian sentimen itu mereda karena investor mengalihkan dana ke sektor yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi, seperti kecerdasan buatan dan saham semikonduktor. “Faktor yang mendorong harga emas naik tajam pada awal tahun memang mulai berkurang. Kini pergerakan emas kembali dipengaruhi faktor tradisional seperti suku bunga,” ujar Bruce.
Meski demikian, Bruce menilai emas masih menunjukkan ketahanan. Setelah terkoreksi dari rekor tertinggi, logam mulia tersebut mampu bertahan di area support penting US$ 4.000 per ons troi. “Harga emas sudah mengalami koreksi cukup besar dan berhasil mempertahankan level US$ 4.000 per ons. Penembusan signifikan di bawah level itu baru akan menjadi sinyal yang lebih mengkhawatirkan,” katanya.
Bruce menambahkan bahwa minat investor terhadap emas sedikit menurun beberapa bulan terakhir, tetapi tidak ada aksi jual besar-besaran yang mendorong tren bearish berkepanjangan. “Sebaliknya, banyak investor masih mempertahankan kepemilikan emas sambil mengejar peluang keuntungan di pasar saham yang sedang menguat,” jelasnya.
Prospek Harga Emas
Dalam jangka panjang, Bruce tetap optimistis. Ia menyebut beberapa faktor pendukung masih relevan, antara lain risiko pelemahan nilai mata uang, potensi turunnya suku bunga riil, serta kemungkinan kenaikan kembali pembelian emas oleh bank sentral.
“Kami melihat kondisi saat ini lebih sebagai jeda dalam pembelian emas oleh bank sentral. Jika permintaan tersebut kembali meningkat, maka peluang kenaikan harga emas masih sangat terbuka,” ujar Bruce. Ia menilai kembalinya pembelian oleh bank sentral dapat menjadi katalis tercepat yang mendorong harga menembus rekor baru.
Dalam jangka pendek, arah harga emas dipengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pasar menunggu hasil rapat dua hari bank sentral AS untuk petunjuk arah suku bunga hingga akhir tahun. Bruce memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat relatif kecil, tetapi sinyal The Fed yang menandakan tidak ada kenaikan tambahan tetap akan menjadi sentimen positif bagi emas.
“Jika The Fed hanya mempertahankan suku bunga sepanjang tahun tanpa menaikkannya lagi, itu sudah cukup positif bagi emas,” kata Bruce. Saat ini pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun berada di kisaran 50%, sehingga setiap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dapat menentukan arah pergerakan emas dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Bruce meyakini peluang harga emas untuk kembali menembus rekor tertinggi masih terbuka lebar, terutama jika permintaan dari bank sentral global kembali meningkat.
Ikuti Ihram.co.id
