Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing bersih sebesar US$ 3,9 miliar ke pasar keuangan domestik hingga 15 Juni 2026. Dana asing tersebut terutama mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah BI (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan arus modal masuk pada triwulan II-2026 tersebut menandai pembalikan dari triwulan I-2026 yang mencatat aliran modal keluar neto sebesar US$ 0,8 miliar.

“Aliran masuk modal asing pada triwulan II-2026 atau hingga 15 Juni 2026 secara neto tercatat sebesar US$ 3,9 miliar, setelah pada triwulan I-2026 secara neto mencatat aliran modal keluar sebesar US$ 0,8 miliar,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Juni 2026.

Perkuat Neraca Pembayaran dan Koordinasi Kebijakan

Perry mengatakan BI bersama pemerintah terus memperkuat kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) untuk menjaga ketahanan sektor eksternal. Dari sisi transaksi modal dan finansial, sinergi kebijakan moneter dan fiskal dinilai mendorong daya tarik instrumen keuangan domestik sehingga menarik modal asing.

Meski demikian, Perry mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menurun menjadi US$ 0,1 miliar, dari US$ 3,3 miliar pada Maret 2026. BI dan pemerintah disebut terus memperkuat koordinasi untuk menjaga kinerja neraca modal dan finansial serta stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.

Langkah Likuiditas dan Pembelian SBN

Untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, BI kembali membuka window lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan.

Hingga 17 Juni 2026, BI mencatat pembelian SBN senilai Rp 156,98 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 76,62 triliun. Menurut Perry, perkembangan ini menjaga pertumbuhan uang primer tetap tinggi dan mendukung kecukupan likuiditas perekonomian.

Perkembangan Uang Beredar

BI melaporkan uang primer (M0) pada Mei 2026 tumbuh 14,8% secara tahunan, meningkat dari 14,1% pada April 2026. Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada April 2026 tumbuh 9,2% secara tahunan, melanjutkan pertumbuhan setelah mencapai 9,7% pada bulan sebelumnya.

Perry menyebut pertumbuhan M2 terutama didorong oleh peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit.

“Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3% sampai dengan 0,5% dari produk domestik bruto,” kata Perry.

“Ke depan, pertumbuhan uang beredar akan terus dikelola sehingga tetap konsisten menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah,” tambahnya.