Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) jatuh setelah menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi surveilans perairan ini dilaporkan dalam kondisi laik terbang saat berangkat dari Yogyakarta menuju Makassar pukul 08.08 WIB.

Temuan KNKT Mengenai Kondisi Mesin Pesawat

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, mengungkapkan bahwa pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut sempat mengalami kendala mesin tiga hari sebelum kecelakaan.

Namun, berdasarkan hasil wawancara dengan pihak IAT, tidak ada laporan kerusakan pada hari keberangkatan.

“Termasuk keluhan masalah engine yang sebelumnya ada tiga hari sebelumnya ada keluhan masalah engine. Ketika penerbangan terakhir tidak ada keluhan,” ujar Soerjanto dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Selasa (20/1/2026).

Soerjanto menambahkan bahwa pesawat menempuh rute dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Udara Sultan Hasanuddin dalam kondisi yang dinyatakan baik oleh kru pesawat.

Duka Basarnas dan Misi Kemanusiaan Masa Lalu

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, menyampaikan duka mendalam karena pesawat dan kru yang jatuh tersebut pernah membantu operasi SAR sebelumnya. Pada Desember 2025, pesawat ATR 42-500 ini terlibat dalam pencarian korban KM Maulana-30 yang terbakar di perairan Belimbing, Lampung.

“Dan ini menjadi kesan mendalam bagi kami, karena pada saat operasi ini, kami dibantu oleh pesawat yang saat ini sedang kami cari,” kata Syafi’i.

Tiga personel yang berada di dalam pesawat ATR tersebut diketahui merupakan awak yang juga terlibat dalam misi penyelamatan di Lampung bulan lalu. Atas dasar kedekatan tersebut, Basarnas mengaku mengenal baik para korban yang kini tengah dicari oleh tim gabungan.

Klarifikasi Data Smartwatch Co-Pilot

Terkait spekulasi adanya pergerakan 13.000 langkah kaki yang terekam pada smartwatch milik Co-Pilot Farhan Gunawan, Basarnas memastikan data tersebut bukan terekam pascakecelakaan. Setelah dilakukan pemeriksaan bersama Polda Sulawesi Selatan, rekaman langkah kaki tersebut adalah data lama.

“Setelah dibuka, bahwa ternyata rekaman itu di beberapa bulan yang lalu waktu korban masih di Jogja. Dan itu sudah di-clear-kan tadi pagi,” tegas Syafi’i.

Pihak keluarga Farhan dilaporkan telah memahami penjelasan tersebut. Saat ini, tim SAR terus mengoptimalkan pencarian dengan mengerahkan pesawat Boeing, tiga helikopter, serta melakukan modifikasi cuaca untuk mempermudah operasi di lapangan.

Analisis Cuaca dan Awan Cumulonimbus

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan kondisi cuaca saat kecelakaan menunjukkan adanya keberadaan awan Cumulonimbus (Cb) di sekitar Bandara Sultan Hasanuddin. Berdasarkan laporan METAR pukul 12.30 WITA, angin bertiup 13 knot dengan jarak pandang 9 kilometer.

“Cuaca di sekitar bandara berupa hujan sesaat di area bandara dengan awan cumulonimbus 1-2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki, serta awan 3-4 oktas yang lebih tebal pada ketinggian sekitar 1.800 kaki,” jelas Teuku.

Data citra satelit Himawari juga menunjukkan suhu puncak awan di lokasi kejadian berkisar antara -48 derajat celsius hingga 21 derajat celsius. Meskipun kondisi cuaca di bandara dinilai relatif stabil, keberadaan awan tebal di jalur pendekatan pendaratan menjadi poin yang diwaspadai.

Proses Evakuasi dan Penemuan Korban

Hingga hari ketiga pencarian, tim SAR telah menemukan dua dari sepuluh korban dalam kondisi meninggal dunia. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki, sedangkan korban kedua adalah perempuan yang ditemukan pada Selasa (20/1) pukul 14.00 WITA.

Syafi’i menyatakan bahwa kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan utuh memberikan harapan bagi tim SAR untuk menemukan korban lain yang mungkin masih selamat. Meskipun demikian, tantangan di lapangan cukup berat karena serpihan pesawat tersebar hingga radius 700 meter.

“Awalnya kami agak pesimis, tapi saat menemukan kondisi korban dalam kondisi utuh, kami sangat berharap,” ungkap Syafi’i mengenai peluang penemuan korban di masa golden time.

Informasi mengenai perkembangan pencarian dan investigasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport ini disampaikan oleh pimpinan Basarnas, KNKT, dan BMKG dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI.