— Kabar hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dengan rute Yogyakarta-Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026, kembali menyoroti struktur kepemilikan maskapai penerbangan yang telah beroperasi sejak tahun 1968 tersebut.

Maskapai ini secara mayoritas berada di bawah kendali konglomerasi media dan investasi, MNC Group, melalui anak perusahaannya PT MNC Energy Investments Tbk.

Baca Juga: Pesawat ATR 42-500 Rute Yogyakarta-Makassar Hilang Radar di Sulawesi Selatan

PT MNC Energy Investments Tbk, yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham IATA, merupakan perusahaan induk bagi Indonesia Air Transport. Perusahaan ini dulunya dikenal sebagai PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk sebelum secara resmi mengubah nama dan fokus bisnis utamanya pada Februari 2022.

Transformasi Bisnis dari Aviasi ke Energi

Perubahan haluan bisnis PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) menjadi PT MNC Energy Investments Tbk dilatarbelakangi oleh kerugian operasional yang terus-menerus dialami sektor penerbangan IATA sejak tahun 2008 hingga 2021.

CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, mengungkapkan bahwa keputusan ini merupakan langkah strategis untuk merambah sektor energi dan pertambangan, khususnya batu bara, yang saat itu sedang mengalami masa keemasan dengan harga komoditas yang tinggi dan margin keuntungan yang besar.

Meskipun terjadi perubahan nama dan fokus bisnis utama, lini aviasi Indonesia Air Transport tidak serta merta ditinggalkan. Hary Tanoesoedibjo menegaskan bahwa bisnis penerbangan tersebut akan tetap beroperasi sebagai anak usaha di bawah payung PT MNC Energy Investments Tbk.

Langkah ini juga mencakup pengalihan aset transportasi udara ke salah satu anak usaha yang 99,99% sahamnya dimiliki oleh IATA, yaitu PT Indonesia Air Transport (IAT).

Peran Indonesia Air Transport di Industri Aviasi

Profil Indonesia Air Transport Operator Pesawat Atr 42 500 Yang Dicari Di Maros
Foto: Indonesia-air.com

Sejak didirikan pada tahun 1968, Indonesia Air Transport telah dikenal sebagai penyedia layanan penerbangan charter untuk industri minyak dan gas, baik di lepas pantai maupun darat, di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

Maskapai ini juga menawarkan berbagai layanan aviasi lainnya, termasuk transportasi penumpang dan kargo, penyewaan pesawat, layanan perbaikan pesawat, hingga fasilitas pelatihan.

Pangkalan utama IAT berada di Bandar Udara Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta, dengan penghubung sekunder di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, dan Sultan Aji Muhammad Sulaiman Airport, Balikpapan.

Perusahaan ini juga menyediakan layanan jet eksekutif, misi pemetaan foto dan survei magnometer, serta dukungan operasi medis dan evakuasi medis.

Dalam sejarahnya, Indonesia Air Transport sempat terdaftar dalam daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa pada Desember 2014 karena alasan keamanan.

Namun, perusahaan ini telah mengantongi sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan diklaim mematuhi standar keselamatan penerbangan internasional.

Baca Juga: Profil Indonesia Air Transport, Operator Pesawat ATR 42-500 yang Dicari di Maros

Berbeda dengan ‘Indonesia Airlines’

Penting untuk membedakan Indonesia Air Transport dengan entitas lain bernama “Indonesia Airlines”. “Indonesia Airlines” adalah maskapai baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2025, yang dimiliki oleh Calypte Holding Pte. Ltd., sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura. Maskapai baru ini dipimpin oleh pengusaha asal Indonesia, Iskandar, dan berfokus pada layanan penerbangan internasional premium.

Sementara itu, Indonesia Air Transport (IAT) adalah maskapai yang lebih dulu berdiri dan telah lama menjadi bagian dari portofolio bisnis MNC Group. Perusahaan ini tetap mempertahankan operasinya di sektor aviasi, meskipun bisnis induknya telah beralih fokus ke investasi energi.

Struktur Kepemilikan Saham Terkini

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, termasuk laporan keuangan dan pemberitaan media, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) adalah pemegang saham utama PT Indonesia Air Transport.

Laporan terbaru pada Januari 2026 juga menunjukkan aktivitas penyesuaian portofolio saham di lingkungan MNC Asia Holding, termasuk terkait IATA. Hal ini mengindikasikan bahwa kepemilikan mayoritas IAT masih berada dalam struktur MNC Group yang dipimpin oleh Hary Tanoesoedibjo.