— Film Demon Slayer: Infinity Castle mencatatkan sejarah baru sebagai film Jepang terlaris sepanjang masa dengan pendapatan mencapai 722 juta dolar AS di seluruh dunia. Pencapaian ini mengukuhkan posisi anime sebagai kekuatan utama di layar lebar global, melampaui ekspektasi industri animasi internasional.

Dari total pendapatan tersebut, sekitar 134,5 juta dolar AS berasal dari bioskop Amerika Utara. Film yang disutradarai oleh Haruo Sotozaki dan diproduseri Hikaru Kondo ini merupakan bagian pertama dari trilogi yang mengadaptasi babak terakhir dari manga asli karya Koyoharu Gotouge.

Transformasi ufotable Menjadi Mesin Kreatif Global

Di balik kesuksesan waralaba ini terdapat ufotable, studio berbasis di Tokyo yang didirikan oleh Hikaru Kondo pada tahun 2000.

Nama studio ini berasal dari furnitur desainer berbentuk UFO yang berada di kantor awal mereka, mencerminkan keinginan Kondo untuk membangun rumah produksi yang informal dan berorientasi pada seniman.

ufotable dikenal di industri Jepang karena gaya visual yang memadukan animasi gambar tangan dengan komposisi CG yang canggih.

Berbeda dengan model alih daya (outsourcing) yang umum di industri, ufotable mempertahankan sekitar 300 staf tetap di dalam perusahaan (in-house) untuk memastikan kolaborasi jangka panjang.

Kondo menjelaskan bahwa model kerja ini memungkinkan komunikasi yang lebih efektif. “Kami semua bekerja di dalam perusahaan, dan banyak anggota tim kami telah bersama kami selama bertahun-tahun.

Karena kami telah bekerja sama begitu lama, ada semacam komunikasi singkat yang sudah dipahami bersama,” ujar Kondo dalam wawancara bersama The Hollywood Reporter.

Tantangan Visualisasi Ruang Tanpa Batas

Fokus utama dalam film ini adalah visualisasi Infinity Castle, sebuah benteng yang menentang gravitasi dan menjadi lokasi pertempuran terakhir.

Kondo menyebutkan bahwa ide aslinya sangat sederhana, yakni menghadirkan Infinity Castle ke layar lebar sesuai keinginan penggemar.

Dalam proses kreatifnya, Kondo mengawasi langsung skenario dan papan cerita (storyboard). Baginya, papan cerita berfungsi sebagai pemantik ide bagi para seniman di studionya untuk bereksperimen dengan urutan aksi maupun pergerakan kamera.

“Saya memikirkan animator mana yang paling cocok untuk jenis aksi tertentu, atau siapa yang terbaik dalam adegan karakter yang intim, atau siapa yang paling bisa menangani ekspresi air berbasis CG,” kata Kondo.

Diskusi Anggaran dan Minat Hollywood

Muncul spekulasi di kalangan industri bahwa anggaran Infinity Castle berkisar di angka 20 juta dolar AS. Meskipun angka tersebut tergolong tinggi untuk standar anime Jepang, jumlah itu jauh di bawah anggaran rata-rata film animasi besar Hollywood.

Kondo menolak untuk memberikan komentar resmi mengenai angka anggaran tersebut. Namun, produser dari Aniplex, Yuma Takahashi, yang turut hadir dalam diskusi tersebut memberikan tanggapan terkait potensi anggaran untuk bagian kedua trilogi ini.

“Saya akan mencoba yang terbaik secara tulus,” ujar Takahashi menanggapi perbandingan anggaran film Hollywood yang bisa mencapai 100 juta hingga 150 juta dolar AS untuk sebuah sekuel sukses.

Kesuksesan Demon Slayer juga menarik perhatian studio-studio besar di Hollywood. Kondo mengonfirmasi bahwa ufotable telah menerima berbagai tawaran dan pendekatan untuk kolaborasi internasional selama beberapa waktu terakhir.

Evolusi Industri dan Sentuhan Manusia dalam Animasi

Kondo merefleksikan perjalanannya membangun studio sejak usia 30 tahun. Ia mengakui bahwa industri anime di masa lalu sangat berat dengan kondisi kerja yang kurang baik.

Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan terbesar studio adalah mempertahankan anggota tim yang telah bekerja bersamanya sejak awal.

Mengenai integrasi teknologi seperti AI dan peningkatan frame rate, ufotable memilih untuk tetap memprioritaskan proses trial-and-error manusia.

Kondo menyatakan bahwa perpaduan antara 2D dan 3D di studionya lahir dari revisi berulang kali hingga mencapai hasil yang memuaskan.

“Saya tidak percaya seniman kami lahir dengan kejeniusan yang tidak terjangkau. Keterampilan mereka berasal dari upaya, pengulangan, dan pengalaman mendalam. Apa yang Anda lihat di layar adalah hasil dari proses manusia yang terakumulasi tersebut,” pungkas Kondo.

Informasi mengenai perkembangan produksi dan pencapaian film Demon Slayer tersebut disampaikan melalui wawancara resmi Hikaru Kondo dengan The Hollywood Reporter.