— Keputusan kontroversial terkait kartu merah Pierre Kalulu dalam laga Derby d’Italia antara Inter Milan melawan Juventus pada Minggu (15/2/2026) dini hari WIB, kembali menyoroti keterbatasan regulasi Video Assistant Referee (VAR) dalam intervensi keputusan kartu kuning kedua.

Insiden yang terjadi tepat sebelum jeda turun minum di Stadion San Siro tersebut, berujung pada pengusiran bek Juventus, Pierre Kalulu, oleh wasit Federico La Penna. Kalulu menerima kartu kuning kedua setelah dianggap melakukan pelanggaran terhadap Alessandro Bastoni di tepi kotak penalti.

Keputusan ini sontak memicu protes keras dari kubu Juventus, terlebih tayangan ulang menunjukkan minimnya kontak fisik antara kedua pemain, bahkan mengarah pada dugaan simulasi oleh Bastoni.

Pakar Wasit Kecam Keputusan Wasit dan Keterbatasan VAR

Pakar perwasitan Italia, Luca Marelli, secara tegas menyatakan bahwa keputusan wasit Federico La Penna merupakan “kesalahan yang sangat serius”. Namun, Marelli menambahkan bahwa dalam kasus kartu kuning kedua, VAR tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi, sehingga keputusan wasit menjadi final.

“Ini adalah kesalahan yang sangat serius dari La Penna, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan karena VAR tidak dapat campur tangan pada kartu kuning kedua,” ujar Marelli, dilansir dari DAZN.

Analisis yang lebih tajam datang dari mantan wasit Graziano Cesari. Ia menilai kartu kuning kedua untuk Kalulu tidak memiliki dasar sama sekali. “Ini kesalahan besar. Kartu kuning kedua tidak ada. Tidak ada kontak antara Bastoni dan Kalulu, ada jarak yang jelas antara para pemain,” tegas Cesari dalam analisisnya untuk Sport Mediaset.

Cesari bahkan menyebut bahwa keputusan fatal wasit tersebut justru menyelamatkan Alessandro Bastoni dari kemungkinan kartu kuning kedua karena dianggap melakukan simulasi.

Regulasi VAR dan Kartu Kuning Kedua

Menurut protokol VAR yang berlaku, teknologi ini hanya dapat digunakan untuk meninjau insiden yang berujung pada kartu merah langsung, penalti, atau kesalahan identitas pemain. Intervensi VAR tidak diperkenankan untuk keputusan kartu kuning kedua, meskipun keputusan tersebut dianggap keliru oleh banyak pihak.

Dalam kasus Kalulu, meskipun ia melakukan gestur meminta peninjauan melalui isyarat VAR, protokol pertandingan tidak mengizinkan hal tersebut. Keterbatasan ini membuat keputusan wasit Federico La Penna, yang dinilai keliru oleh para pakar, tidak dapat dikoreksi, meskipun sangat berdampak pada jalannya pertandingan.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, bahkan melakukan substitusi terhadap Alessandro Bastoni pada jeda babak, kemungkinan untuk mengantisipasi potensi kontroversi lebih lanjut atau risiko kartu kuning kedua bagi pemainnya.

Dampak Kontroversi pada Jalannya Pertandingan

Pengusiran Pierre Kalulu secara tidak langsung mengubah dinamika pertandingan Derby d’Italia. Juventus yang harus bermain dengan sepuluh orang sejak sebelum paruh waktu, tampil lebih bertahan. Sementara itu, Inter Milan berupaya memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk menekan pertahanan Juventus.

Meskipun demikian, Juventus menunjukkan ketahanan yang patut diapresiasi. Namun, pada akhirnya, Inter Milan berhasil memecah kebuntuan melalui gol kemenangan yang dicetak oleh Francesco Pio Esposito pada menit ke-76, memanfaatkan umpan silang dari Federico Dimarco. Kemenangan ini semakin memperkokoh posisi Inter Milan di puncak klasemen Serie A.

Kasus Pierre Kalulu ini kembali membuka perdebatan mengenai efektivitas dan batasan VAR dalam sepak bola modern. Para pengamat berpendapat bahwa meskipun VAR bertujuan untuk meminimalkan kesalahan wasit, regulasi yang ada terkadang justru membatasi kemampuannya untuk memperbaiki keputusan yang jelas-jelas keliru, terutama yang berkaitan dengan kartu kuning kedua.