— PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), emiten yang bergerak di bidang pengolahan sarang burung walet, telah mencetak sejarah baru di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan membukukan Auto Reject Atas (ARA) selama 17 hari perdagangan berturut-turut. Reli harga yang luar biasa ini dimulai sejak pencatatan saham perdana (IPO) perusahaan pada 8 Desember 2025, hingga mencapai puncaknya pada 8 Januari 2026.

Pencapaian RLCO ini memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh emiten lain, seperti PT Chandra Daya Investasi (CDIA) yang mencatatkan 11 kali ARA beruntun dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) dengan 10 kali ARA. Tingginya minat investor mendorong harga saham RLCO meroket lebih dari 1.430% dari harga IPO-nya, memicu perhatian serius dari regulator pasar modal.

Reli Harga Spektakuler dan Respons Bursa

Sejak pertama kali melantai di BEI pada 8 Desember 2025, saham RLCO, yang dikenal melalui merek kesehatan Realfood, langsung menyentuh ARA pada hari pertama perdagangan. Harga IPO yang ditetapkan sebesar Rp168 per saham melonjak drastis seiring dengan tingginya permintaan pasar. Antusiasme investor tersebut tidak luntur bahkan setelah beberapa kali tindakan intervensi dari BEI.

Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, saham RLCO telah mengalami kenaikan harga yang fantastis. Hingga 30 Desember 2025, setelah 12 kali ARA, harga saham RLCO telah mencapai Rp1.765, melonjak lebih dari 950% dari harga IPO. Kenaikan ini terus berlanjut hingga mencapai Rp2.570 per saham pada 7 Januari 2026, yang menandakan kenaikan lebih dari 1.430% dari harga penawaran perdana.

Fenomena ARA berjilid-jilid pada saham RLCO ini telah menarik perhatian Bursa Efek Indonesia. Sebagai respons terhadap volatilitas yang ekstrem, BEI sempat melakukan suspensi perdagangan saham RLCO sebanyak dua kali. Selain itu, saham RLCO juga dimasukkan ke dalam Papan Pemantauan Khusus dengan mekanisme full-call auction (FCA) untuk sementara waktu. Namun, pada 8 Januari 2026, BEI mengumumkan bahwa saham RLCO akan keluar dari papan FCA, menandai berakhirnya periode pemantauan khusus tersebut.

Faktor Pendorong Antusiasme Investor

Beberapa faktor disinyalir menjadi pendorong utama di balik reli harga saham RLCO yang luar biasa ini. Salah satunya adalah tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) yang masif selama masa IPO, mencapai 143 kali bahkan hingga 948 kali pada fase penjatahan terpusat (pooling allotment). Angka ini menunjukkan tingginya minat investor, baik ritel maupun institusi, terhadap saham perusahaan sarang burung walet ini.

Prospek bisnis PT Abadi Lestari Indonesia Tbk yang menjanjikan juga menjadi daya tarik. Perusahaan berencana menggunakan dana hasil IPO senilai Rp105 miliar untuk memperkuat modal kerja, khususnya untuk pembelian bahan baku sarang burung walet, serta menambah modal di anak usaha, PT Realfood Winta Asia. Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, menyatakan bahwa IPO merupakan langkah penting untuk bertransformasi dari pemain komoditas menjadi pelaku industri bernilai tambah, dengan target ekspansi ke pasar global seperti Tiongkok, Hong Kong, Amerika Serikat, Vietnam, dan Thailand.

Selain fundamental, psikologi pasar juga memainkan peran signifikan. Kenaikan harga yang konsisten menciptakan efek Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan investor, yang semakin mendorong permintaan beli dan mempertahankan saham di batas ARA. Kelangkaan pasokan saham di pasar reguler juga berbanding terbalik dengan permintaan yang masif, menciptakan kondisi harga yang terus melonjak.

Mekanisme Auto Reject Atas (ARA) dan Batasannya

Auto Reject Atas (ARA) adalah mekanisme pengaman yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membatasi kenaikan harga saham dalam satu hari perdagangan. Tujuannya adalah menjaga stabilitas pasar dan melindungi investor dari lonjakan harga yang ekstrem dan tidak wajar. Ketika harga saham menyentuh batas atas yang ditentukan, sistem bursa secara otomatis akan menolak semua permintaan beli di atas harga tersebut.

Batasan persentase ARA bervariasi tergantung pada rentang harga saham. Berdasarkan Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00023/BEI/03-2020, untuk saham dengan harga Rp50 hingga Rp200, batas kenaikan adalah 35%. Untuk saham dengan harga Rp200 hingga Rp5.000, batas kenaikan adalah 25%. Sementara itu, untuk saham di atas Rp5.000, batas kenaikan adalah 20%. Khusus untuk saham IPO, batas ARA bisa mencapai dua kali lipat dari persentase normal pada hari pertama perdagangan, yang kemudian kembali ke batasan normal pada hari-hari berikutnya.

Fenomena RLCO yang berhasil mencetak 17 kali ARA berturut-turut menjadi studi kasus menarik tentang dinamika pasar modal Indonesia, di mana fundamental perusahaan yang kuat dan sentimen positif investor dapat menciptakan reli harga yang luar biasa, meskipun disertai dengan intervensi regulator untuk menjaga kewajaran pasar.