Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka pada level Rp17.736 per dolar AS, atau turun 11 poin (0,06%) dari penutupan sebelumnya.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), rupiah menguat 152 poin terhadap dolar AS ke level Rp17.708 per dolar AS. Pergerakan awal hari ini datang di tengah fokus pasar pada keputusan kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang akan menjadi pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Dolar AS tercatat melemah 0,06% ke angka 99,524 pada waktu yang sama, setelah sempat berada di 99,53. Pelemahan dolar sebagian terkait munculnya rincian kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang meredam permintaan aset aman.
Mata uang lain menunjukkan pergerakan beragam. Yen Jepang berada di 160,43 per dolar AS, level yang memicu kewaspadaan pasar terkait kemungkinan intervensi otoritas Jepang menyusul tekanan terhadap mata uang tersebut setelah sinyal kenaikan suku bunga dari Bank of Japan (BOJ).
Euro stabil di 1,1611 dolar AS per unit, sementara poundsterling sedikit berubah di 1,3430 dolar AS. Dolar Australia tercatat tetap di 0,7066 dolar AS.
Pasar menilai Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, pernyataan resmi, proyeksi ekonomi, dan konferensi pers setelahnya akan dicermati untuk mencari petunjuk arah kebijakan selanjutnya, termasuk sinyal mengenai potensi pelonggaran kebijakan moneter di masa depan.
Ihram.co.id — “Fed kemungkinan akan memberi sinyal bias netral untuk kebijakan moneter ke depannya,” kata Erik Weisman, kepala ekonom dan manajer portofolio di MFS Investment Management.
“(Warsh) akan menghadapi banyak pertanyaan tentang bagaimana ia berharap untuk mengarahkan The Fed ke arah yang telah ia indikasikan selama bertahun-tahun. Ini masih tahap awal. Ketua Fed yang baru mungkin masih mengukur suasana hati komite yang harus ia pimpin untuk menghasilkan kebijakan yang sukses. Ia mungkin tidak ingin membuat pernyataan apa pun tanpa terlebih dahulu membangun konsensus di dalam Fed.”
Ikuti Ihram.co.id
