Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Pada akhir sesi, rupiah tertekan 39 poin menjadi Rp 17.764 per dolar AS, turun dari level Rp 17.725 pada penutupan sebelumnya.
Pergerakan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan perhatian pasar terhadap keputusan kebijakan moneter domestik. Analis mencatat beberapa faktor utama yang mendorong pelemahan.
Sentimen Eksternal Dari Kesepakatan AS-Iran
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mata uang domestik melemah seiring menguatnya sentimen terkait optimisme atas kesepakatan AS-Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut disebut mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut. Selain itu, AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran, sementara Teheran mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz—jalur yang sempat efektif diblokir sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Fokus Pada Kebijakan The Fed dan RDG BI
Ibrahim menambahkan, “Fokus pasar sekarang sepenuhnya pada pengumuman kebijakan pertama Federal Reserve di bawah Ketua Kevin Warsh. Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut ‘plot titik’ untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan.”
Dari sisi domestik, perhatian pasar juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 17–18 Juni 2026, yang turut memengaruhi dinamika nilai tukar.
Ikuti Ihram.co.id
