Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berubah merah pada sesi I perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, setelah sebelumnya mencatat rentang penguatan yang signifikan pada awal bulan.

Pada sekitar pukul 10.33 WIB, harga saham BBCA tercatat turun 2,39% ke posisi Rp6.125 per saham dengan volume perdagangan mencapai 84,52 juta saham, frekuensi 24.293 kali, dan nilai transaksi Rp522,34 miliar.

Tekanan Jual Setelah Ex-Dividend

Pergerakan turun ini dikaitkan dengan tekanan jual yang muncul setelah ex date dividen interim BBCA pada Rabu (17/6/2026) di pasar reguler dan pasar negosiasi. Data perdagangan mencatat posisi net sell senilai Rp113,1 miliar pada saat berita disusun.

Meski pada perdagangan Rabu tercatat net buy asing sebesar Rp375,29 miliar, tekanan dari investor domestik terlihat, dengan broker BCA Sekuritas membukukan net sell domestik sebesar Rp174,5 miliar.

Sentimen Pasar dan Risiko IHSG

Saham BBCA juga turun sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah lebih dari 1% pada saat pengamatan. Sinarmas Sekuritas mencatat sentimen pasar dipengaruhi oleh antisipasi keputusan Bank Indonesia, kekhawatiran terhadap arah suku bunga dan pergerakan rupiah, serta potensi tekanan tambahan menjelang review MSCI.

“Dengan kondisi tersebut, IHSG berisiko melemah sekitar -2% hingga -3%, sehingga strategi yang disarankan adalah bersikap wait and see apabila terjadi aksi panic selling dari aliran dana asing pada sesi pertama,”

BCA mengumumkan pembagian dividen interim sebesar Rp2,45 triliun atau Rp20 per saham bagi pemegang saham yang tercatat pada 18 Juni 2026 pukul 16.00 WIB. Pembayaran dividen dijadwalkan pada 26 Juni 2026.