Ihram.co.id — Final Piala Afrika (AFCON) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stade Prince Moulay Abdellah, Rabat, berakhir dengan kericuhan massal pada Senin (19/1/2026) dini hari WIB. Pertandingan yang dimenangkan Senegal dengan skor 1-0 tersebut diwarnai aksi walk-off pemain, perkelahian di tribun media, hingga invasi suporter ke dalam lapangan.
Kericuhan Bench dan Aksi Mogok Pemain
Ketegangan memuncak pada masa tambahan waktu babak kedua setelah wasit Jean-Jacques Ndala memberikan penalti kepada tuan rumah Maroko melalui tinjauan VAR. Keputusan tersebut diambil setelah El Hadji Malick Diouf dianggap melakukan pelanggaran terhadap Brahim Diaz di dalam kotak penalti pada menit ke-90+6.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, merespons keputusan tersebut dengan menginstruksikan para pemainnya untuk meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes. Aksi walk-off ini memicu perdebatan sengit antara pemain kedua tim dan ofisial di pinggir lapangan, sementara pendukung Maroko di tribun terus bersorak dan meniup peluit di tengah kekacauan tersebut.
Pertandingan sempat terhenti selama 14 menit sebelum para pemain Senegal akhirnya bersedia kembali ke lapangan. Kembalinya tim berjuluk Singa Teranga tersebut terjadi setelah Sadio Mane masuk ke ruang ganti untuk membujuk rekan-rekannya agar melanjutkan pertandingan.
Bentrokan di Tribun Jurnalis dan Invasi Lapangan
Kekacauan tidak hanya terjadi di area teknis, tetapi juga merambat ke area pers. Sejumlah jurnalis dilaporkan terlibat baku hantam di dalam press box saat situasi di lapangan memanas.
Di sudut lain stadion, kelompok suporter Senegal yang dikenal sebagai Gaindé melompati pagar pembatas untuk menghadapi ofisial pertandingan dan delegasi Maroko. Aksi ini memicu intervensi dari petugas keamanan dan polisi anti-huru hara yang segera membentuk barikade antara tribun dan lapangan.
Selama kericuhan berlangsung, berbagai proyektil dilemparkan ke arah rumput lapangan. Suporter juga dilaporkan melompat ke atas papan iklan elektronik dan merusak instalasi layar di salah satu sisi stadion.
Kerusakan Fasilitas dan Petugas Keamanan Cedera
Otoritas keamanan mengamankan sejumlah pendukung Senegal yang terlibat dalam aksi anarkis tersebut. Akibat kerusuhan ini, fasilitas stadion berupa papan iklan elektronik mengalami kerusakan fisik setelah dirobohkan oleh massa.
Satu orang petugas keamanan (steward) dilaporkan harus dievakuasi menggunakan tandu. Petugas tersebut mengalami cedera di bagian tubuh atas saat mencoba mengendalikan massa yang merangsek masuk.
Kegagalan Penalti dan Gol Kemenangan Senegal
Setelah situasi mereda, Brahim Diaz maju sebagai eksekutor penalti pada menit ke-90+24. Namun, tendangan dengan teknik Panenka yang dilepaskannya berhasil ditangkap dengan mudah oleh penjaga gawang Senegal, Edouard Mendy, yang sebelumnya sempat menerima kartu kuning karena dianggap sengaja merusak titik penalti.
Pertandingan kemudian berlanjut ke babak tambahan waktu karena skor tetap imbang 0-0. Senegal akhirnya memastikan gelar juara melalui gol Pape Gueye pada menit ke-94 melalui skema serangan balik cepat setelah memanfaatkan umpan dari Sadio Mane.
Kemenangan ini membawa Senegal meraih gelar Piala Afrika kedua mereka dalam sejarah. Sementara itu, Maroko kembali gagal mengakhiri puasa gelar kontinental mereka yang telah berlangsung selama 50 tahun.
Informasi mengenai jalannya pertandingan dan insiden kerusuhan dalam final Piala Afrika 2025 tersebut dihimpun berdasarkan laporan dari ESPN, Associated Press, dan L’Équipe.
Ikuti Ihram.co.id
