Ihram.co.id — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tujuh perusahaan telah masuk dalam daftar antrean atau pipeline penawaran umum perdana saham (IPO) hingga pertengahan Januari 2026. Mayoritas dari calon emiten ini merupakan entitas berskala besar, menunjukkan geliat pasar modal yang tetap optimistis di awal tahun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa hingga Jumat, 16 Januari 2026, sebanyak tujuh perusahaan tengah dalam proses menuju pencatatan saham di bursa. “Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Nyoman dalam keterangannya.
Dari total tujuh perusahaan tersebut, lima di antaranya memiliki aset di atas Rp250 miliar, yang mengklasifikasikan mereka sebagai perusahaan berskala besar sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017. Sementara itu, satu perusahaan masuk kategori aset menengah dengan nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan satu perusahaan lainnya berskala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar.
Secara sektoral, antrean IPO ini menunjukkan keragaman industri. Sektor keuangan menjadi penyumbang terbanyak dengan dua perusahaan. Lima sektor lainnya masing-masing menyumbang satu calon emiten, meliputi sektor bahan baku (basic materials), energi, industri, teknologi, serta transportasi dan logistik.
Meskipun antrean IPO mulai terisi, Nyoman Yetna menegaskan bahwa hingga 15 Januari 2026, belum ada perusahaan yang secara resmi melantai di bursa. Realisasi dana yang dihimpun dari pencatatan saham perdana pun masih tercatat nol rupiah pada periode tersebut.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, sebelumnya telah menargetkan sebanyak 50 perusahaan akan melakukan penawaran saham perdana sepanjang 2026. Target ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan komitmen BEI untuk memperluas jumlah emiten dan memperdalam kapitalisasi pasar.
Selain itu, BEI juga membidik setidaknya enam perusahaan berskala besar atau yang disebut “emiten mercusuar” (lighthouse) untuk melantai melalui skema IPO pada 2026. Perusahaan-perusahaan ini diharapkan dapat menarik dana besar, meningkatkan likuiditas pasar, dan memperkuat posisi BEI di kawasan Asia Tenggara. Iman Rachman menambahkan bahwa dalam daftar antrean emiten mercusuar, belum terdapat calon emiten yang berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mengindikasikan dominasi sektor swasta dalam geliat IPO skala besar tahun ini. “Seharusnya [dari BUMN] belum ada, sejauh ini belum ada proses,” tegas Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, pada Jumat, 2 Januari 2026.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tengah menyiapkan sejumlah program strategis untuk memperkuat pasar modal sepanjang 2026, termasuk rencana penerbitan aturan baru terkait batas saham yang diperdagangkan (free float). Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, memastikan kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap dan memperhatikan kondisi serta dinamika pasar. “Kebijakan free float ini rencananya akan kita terbitkan pada tahun 2026 ya, tentunya bertahap,” ujar Inarno dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember yang disiarkan secara daring pada Jumat, 9 Januari 2026.
Namun, terdapat pandangan berbeda dari beberapa institusi keuangan global. Citi, misalnya, memperkirakan pasar modal Indonesia akan sepi dari IPO signifikan pada paruh pertama 2026. Head of ECM Syndicate for Asia Citi, Rob Chan, menilai investor masih mempertimbangkan kondisi likuiditas perdagangan saham yang belum kuat. Ia memprediksi aksi IPO besar kemungkinan baru akan terealisasi pada semester II 2026 atau bahkan bergeser ke tahun 2027. “Sejumlah rencana IPO kemungkinan baru akan terealisasi pada paruh kedua tahun atau bergeser ke tahun berikutnya,” ucapnya dalam Citi Asia South Investment Banking Outlook 2026 pada Kamis, 15 Januari 2026.
Senada, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, juga mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan struktural karena minimnya arus penawaran umum perdana. Dibandingkan gelombang IPO di negara lain seperti China, India, dan Korea, pipeline IPO Indonesia dinilai stagnan sehingga membatasi perkembangan kapitalisasi pasar.
Selain IPO saham, BEI juga mencatat aktivitas korporasi lain. Hingga 15 Januari 2026, sebanyak sembilan emisi dari tujuh penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) telah diterbitkan dengan total dana terkumpul senilai Rp5,85 triliun. Masih ada sepuluh emisi dari lima penerbit EBUS yang dalam antrean penerbitan. Aksi korporasi rights issue juga menunjukkan geliat, dengan tiga perusahaan menyelesaikan rights issue senilai total Rp2,90 triliun hingga 15 Januari 2026.
Ikuti Ihram.co.id
