— Mantan juara dunia MotoGP, Casey Stoner, mengungkap alasan utama mengapa Marc Marquez dinilai sulit dikalahkan di ajang MotoGP. Menurut Stoner, keunggulan Marquez tidak hanya terletak pada kecepatan, tetapi juga kemampuan race craft serta strategi membangun balapan yang sangat matang.

Stoner menilai banyak pembalap memiliki kecepatan tinggi, namun tidak semuanya mampu memaksimalkan kemampuan membaca situasi balapan seperti Marquez.

“Tidak ada yang meragukan talenta atau kecepatannya. Yang membedakan adalah bagaimana dia menggunakan race craft secara maksimal,” ujar Stoner yang kami kutip dari Crash.net, Senin (16/2).

Ia menilai kemampuan memahami ritme balapan dan menentukan waktu yang tepat untuk menyerang menjadi senjata utama Marquez dalam mengalahkan para rivalnya.

Baca Juga: Marc Marquez Disebut Hancurkan Performa Bagnaia Musim 2025, Panaskan Persaingan Internal Jelang MotoGP 2026

Evolusi Mentalitas Setelah Masa Sulit

Stoner juga menyoroti perubahan besar dalam mentalitas Marquez setelah melewati periode sulit akibat cedera serius dan penurunan performa tim dalam beberapa musim.

Marquez meraih gelar juara dunia MotoGP terakhirnya bersama Repsol Honda Team pada 2019 sebelum mengalami cedera panjang pada musim 2020. Situasi tersebut membuat performanya menurun dan mendorongnya meninggalkan Honda setelah lebih dari satu dekade.

Ia kemudian menjalani fase kebangkitan bersama Gresini Racing sebelum bergabung dengan Ducati Lenovo Team. Stoner menilai periode sulit itu justru membentuk karakter Marquez menjadi lebih sabar, cerdas, dan strategis.

Menurutnya, pengalaman menghadapi cedera serta tekanan kompetisi membuat Marquez kini tidak hanya mengandalkan agresivitas, tetapi juga pendekatan balap yang lebih terukur.

Manajemen Ban Jadi Senjata Tersembunyi

Selain strategi balapan, Stoner menilai kemampuan Marquez dalam mengelola kondisi ban menjadi faktor penting yang jarang disadari publik.

Menurutnya, Marquez cenderung sangat sabar pada fase awal balapan dan tidak langsung memaksakan kecepatan maksimum. Pendekatan ini memungkinkan ban tetap terjaga sehingga ia memiliki performa lebih kuat di lap-lap akhir.

Stoner menyebut banyak rival gagal memahami bagaimana Marquez menjaga performa ban sepanjang lomba.

Pendekatan tersebut bahkan ia bandingkan dengan strategi manajemen ban di Formula 1, khususnya gaya juara dunia Max Verstappen yang menjaga kondisi ban pada awal stint untuk memperoleh keunggulan di akhir balapan.

Dengan strategi ini, Marquez sering tampil sangat kompetitif pada fase akhir lomba ketika pembalap lain mulai kehilangan grip.

Minim Ketergantungan pada Elektronik Motor

Stoner juga menilai Marquez memiliki keunggulan dalam mengendalikan motor tanpa terlalu bergantung pada sistem elektronik.

Sebagian besar pembalap modern mengandalkan perangkat elektronik untuk mengontrol slip ban. Namun Marquez dinilai mampu merasakan batas grip secara alami sehingga dapat menjaga stabilitas motor dan memperpanjang daya tahan ban.

Dengan kontrol motor yang lebih halus dan presisi, sistem elektronik bekerja lebih efektif ketika kondisi grip menurun di akhir balapan. Hal tersebut memberikan keuntungan performa yang sulit ditiru pembalap lain.

Pembalap dengan Gaya Balap Semakin Matang

Stoner melihat perubahan signifikan dalam gaya balap Marquez dibanding era 2010-an. Jika sebelumnya dikenal sangat agresif dan berani mengambil risiko tinggi, kini Marquez lebih strategis dalam menentukan momen menyerang.

Kombinasi antara kecerdasan membaca balapan, kesabaran dalam mengelola ban, serta kemampuan teknis mengendalikan motor menjadikan Marquez sebagai salah satu pembalap paling komplet di MotoGP saat ini.

Baca Juga: Jorge Lorenzo Ungkap Transformasi Marc Marquez, Kini Lebih Dewasa dan Presisi di MotoGP

Menurut Stoner, pendekatan tersebut membuat Marquez tetap menjadi ancaman utama dalam perebutan gelar juara dunia dan menjelaskan mengapa ia masih sangat sulit dikalahkan oleh para rivalnya.