— Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, meluapkan kemarahannya setelah timnya takluk 1-3 dari AC Milan dalam laga Serie A yang digelar pada Kamis, 15 Januari 2026, di Stadio Giuseppe Sinigaglia. Mantan gelandang Barcelona dan Arsenal itu secara khusus menyoroti dominasi penguasaan bola timnya yang tak berbuah hasil, bahkan menyebut “700 operan sia-sia” di hadapan efisiensi lawan.

“Sulit untuk menganalisis apa pun,” ujar Fabregas dalam wawancara pasca-pertandingan dengan Sky. “Kami melakukan banyak hal dengan benar, kami mendominasi, ini adalah pertandingan yang seharusnya kami menangkan. Kami melakukan 700 operan, dan mereka (Milan) hanya 200, itu luar biasa.”

Kekalahan tersebut menjadi pil pahit bagi Como, yang tampil impresif di hadapan pendukung sendiri. Data statistik menunjukkan Como memang unggul dalam hampir setiap metrik, termasuk penguasaan bola sebesar 68%, jumlah operan, tembakan ke gawang, bahkan expected goals (xG).

Namun, ketidakmampuan mereka mengonversi peluang menjadi gol menjadi pembeda utama. Como melepaskan 18 tembakan sepanjang pertandingan, tetapi hanya satu yang berhasil mengoyak jala gawang Milan. Sebaliknya, Milan berhasil mencetak tiga gol dari hanya empat tembakan tepat sasaran.

Pertandingan dimulai dengan baik bagi Como. Mereka berhasil unggul cepat pada menit ke-10 melalui sundulan Marc Oliver Kempf setelah menerima umpan sepak pojok dari Martin Baturina. Gol tersebut sempat membakar semangat para penggemar tuan rumah. Namun, Milan berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti Christopher Nkunku tepat sebelum jeda babak pertama, setelah Kempf melakukan pelanggaran di kotak terlarang.

Di babak kedua, AC Milan menunjukkan mentalitas tim besar. Adrien Rabiot menjadi mimpi buruk bagi Como dengan mencetak dua gol. Gol pertamanya tercipta pada menit ke-55 setelah menerima umpan terobosan dari Rafael Leão. Rabiot kemudian mengunci kemenangan Milan dengan gol spektakuler dari jarak jauh pada menit ke-86, memupus harapan Como untuk bangkit.

Fabregas mengakui efisiensi Milan, yang diperkuat oleh pemain-pemain kelas dunia. “Kenyataannya adalah penguasaan bola tidak menjamin kemenangan,” katanya. “Mereka memiliki terlalu banyak pemain kuat yang menang melalui aksi individu.” Ia menambahkan bahwa timnya telah mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman individual dan serangan balik Milan, namun tetap kebobolan dari skenario yang sudah diantisipasi. “Pada menit ke-45 babak pertama, setelah kehilangan penguasaan bola pertama, mereka mendapatkan penalti,” jelas Fabregas.

Meskipun diliputi kemarahan atas hasil yang tidak adil, Fabregas juga menyatakan kebanggaannya terhadap performa tim. “Saya pulang dengan marah, tapi saya tetap bangga dengan tim, meskipun kami kalah,” tuturnya. Ia juga sempat mengungkapkan perasaannya yang “lelah dengan pujian” atas penampilan timnya yang apik namun tidak dibarengi kemenangan. “Kami ingin bermain bagus dan menang,” tegasnya.

Kekalahan ini menandai kekalahan kandang pertama Como musim ini. Fabregas menyadari bahwa ada area yang harus ditingkatkan, terutama dalam hal mentalitas dan ketajaman di depan gawang.

“Saya harus menyampaikan pesan kepada para pemain bahwa ketika Anda mendominasi seperti itu, Anda harus mencetak lebih banyak gol,” pungkasnya. “Selamat kepada lawan kami, Milan adalah tim yang hebat.” Fabregas juga mengungkapkan bahwa ia tidak dapat langsung berbicara dengan para pemainnya setelah peluit akhir karena rasa frustrasinya.