— Tim Formula 1 Scuderia Ferrari memastikan tidak akan mengajukan protes resmi terhadap dugaan celah teknis yang dimanfaatkan Mercedes-AMG Petronas Formula One Team terkait rasio kompresi mesin. Namun, tim asal Italia tersebut menegaskan pentingnya keputusan tegas dari Fédération Internationale de l’Automobile (FIA) sesegera mungkin.

Kontroversi ini muncul karena sejumlah pabrikan mesin menilai Mercedes memanfaatkan celah regulasi teknis Formula 1 terkait batas rasio kompresi mesin maksimal 16:1.

Berdasarkan informasi yang beredar di paddock, Mercedes disebut mampu memenuhi batas rasio kompresi saat pengujian mesin dalam kondisi suhu lingkungan. Namun, unit tenaga mereka diduga dapat beroperasi dengan rasio lebih tinggi ketika mesin mencapai temperatur kerja optimal.

Baca juga: Max Verstappen Tuduh Mercedes Sembunyikan Performa Asli di Tes F1 Bahrain

Ferrari termasuk salah satu dari empat produsen mesin yang menyuarakan kekhawatiran tersebut, bersama Audi, Honda Motor Company, serta Red Bull Racing, yang mendorong penerapan prosedur pengujian baru dalam kondisi mesin panas.

Usulan tersebut diharapkan dapat disepakati sebelum diajukan kepada FIA dan Formula One Group untuk disahkan.

Kepala tim Ferrari, Frédéric Vasseur, menegaskan bahwa timnya tidak berniat membawa masalah ini ke jalur protes resmi.

“Kami tidak di sini untuk mengajukan protes. Kami ingin regulasi yang jelas dan pemahaman yang sama dari semua pihak,” ujar Vasseur saat sesi pengujian di Bahrain.

Menurutnya, kejelasan aturan sangat penting agar Ferrari dapat menentukan arah pengembangan mesin mereka di masa depan — apakah tetap dengan konsep saat ini atau menyesuaikan pendekatan seperti yang digunakan Mercedes.

Kontroversi Rasio Kompresi dan Area Abu-Abu Regulasi Baru

Vasseur mengakui bahwa munculnya area abu-abu dalam aturan merupakan konsekuensi dari perubahan besar regulasi teknis Formula 1, yang mencakup sistem baterai, mesin, sasis, ban, hingga aturan olahraga.

Ia menilai perbedaan interpretasi antara tim maupun antara tim dan FIA merupakan hal yang tidak terhindarkan dalam fase awal penerapan regulasi baru.

“Yang paling penting bagi saya adalah mendapatkan kejelasan. Semua orang bisa menerima jika sebelumnya terjadi perbedaan pemahaman, tetapi sekarang harus ada keputusan yang jelas,” kata Vasseur.

Persoalan ini dijadwalkan menjadi agenda pembahasan dalam pertemuan Komisi F1 pekan depan di Bahrain. Sejumlah sumber memperkirakan FIA akan mengeluarkan keputusan final mengenai perlu atau tidaknya perubahan aturan, setelah sebelumnya menyatakan pendekatan Mercedes masih sesuai regulasi.

Ancaman Protes di GP Australia Mulai Mereda

Sebelumnya sempat muncul wacana bahwa rival Mercedes dapat mengajukan protes resmi pada seri pembuka musim Formula 1 2026, yakni Australian Grand Prix, jika FIA tetap menganggap pendekatan Mercedes sah.

Namun pernyataan Ferrari yang menolak jalur protes dinilai meredakan potensi eskalasi konflik di awal musim.

Pandangan berbeda sempat disampaikan manajemen tim Alpine yang mendorong pihak yang tidak puas untuk mengajukan keberatan resmi jika merasa dirugikan.

Direktur teknis Red Bull, Pierre Waché, menegaskan bahwa timnya hanya mengikuti proses tata kelola FIA dan mengutamakan keadilan regulasi.

Ia menyatakan bahwa sebagai produsen unit tenaga baru, Red Bull ingin memastikan sistem yang berlaku adil bagi semua peserta.

“Kami hanya mengikuti apa yang dikatakan FIA. Kami memberikan suara sebagai produsen mesin tentang apa yang kami anggap adil, dan sistem tata kelola akan menentukan hasil akhirnya,” kata Waché.

Ia juga menepis anggapan bahwa Red Bull mengubah sikap dalam isu tersebut, seraya menegaskan timnya hanya menjalankan proses yang berlaku.

Keputusan FIA Jadi Penentu Arah Pengembangan Mesin

Keputusan FIA atas polemik rasio kompresi dipandang krusial karena dapat memengaruhi arah pengembangan mesin tim-tim Formula 1 dalam jangka panjang. Kepastian regulasi akan menentukan apakah pendekatan teknis Mercedes dapat diikuti pesaing atau justru dibatasi melalui aturan baru.

Hasil pembahasan Komisi F1 pekan depan di Bahrain diharapkan menjadi titik akhir perdebatan teknis yang berpotensi memengaruhi peta persaingan musim mendatang.