Ihram.co.id — FIFA dilaporkan tengah merencanakan ekspansi besar-besaran untuk ajang Piala Dunia Antarklub dengan menambah kuota peserta dari 32 tim menjadi 48 tim. Selain peningkatan jumlah tim sebesar 50 persen, federasi sepak bola dunia tersebut juga mempertimbangkan untuk mengubah siklus turnamen menjadi dua tahunan, bergeser dari rencana awal yang dijadwalkan setiap empat tahun sekali.
Ekspansi Peserta dan Perubahan Siklus Turnamen
Berdasarkan laporan Marca, FIFA berencana menyamakan format Piala Dunia Antarklub dengan format baru Piala Dunia yang melibatkan 48 tim. Langkah ini muncul setelah FIFA dilaporkan terkesan dengan penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat.
Meskipun rencana awal menempatkan turnamen berikutnya pada tahun 2029, terdapat indikasi bahwa FIFA ingin menggelar ajang ini lebih sering. Belum ada keputusan final mengenai lokasi penyelenggaraan edisi mendatang, namun FIFA mempertimbangkan untuk memperpendek jarak antar turnamen menjadi dua tahun.
Potensi Tuan Rumah dan Agenda Uji Coba
Spanyol dan Maroko muncul sebagai opsi tuan rumah untuk penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub pada tahun 2029. Pemilihan kedua negara ini diproyeksikan sebagai ajang uji coba sebelum pelaksanaan Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Portugal, Spanyol, dan Maroko.
Selain kedua negara tersebut, Amerika Serikat dilaporkan tetap masuk dalam daftar opsi untuk kembali menjadi penyelenggara. FIFA membuka kemungkinan untuk menggunakan infrastruktur yang ada demi mendukung kelancaran turnamen berskala besar tersebut.
Penolakan UEFA Terkait Kepadatan Jadwal
Rencana penambahan jumlah tim dan frekuensi pertandingan ini menghadapi tantangan dari UEFA. Badan sepak bola Eropa tersebut, yang menyumbangkan 12 tim ke turnamen, menyatakan keberatan terhadap ide penambahan pertandingan karena masalah kepadatan jadwal pemain.
Kekhawatiran UEFA didasari pada perubahan format Liga Champions yang baru-baru ini menambah empat pertandingan ekstra bagi tim yang berkompetisi di babak playoff. Mantan pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, juga sempat melontarkan kritik mengenai padatnya jadwal turnamen pada musim lalu, meskipun ia kemudian menarik kembali pernyataannya.
Masalah Finansial dan Distribusi Hadiah
Di luar kendala jadwal, FIFA juga dihadapkan pada persoalan finansial. Laporan The Guardian menyebutkan adanya rasa frustrasi dari sejumlah klub akibat ketidakpastian pembayaran uang hadiah sebesar 212 juta Euro yang merupakan bagian dari pembayaran solidaritas kepada federasi.
Jika dibagi secara merata, setiap klub papan atas di seluruh dunia seharusnya menerima sekitar 57 ribu Euro atau setara Rp1,13 miliar. Namun, hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai jadwal pendistribusian dana tersebut kepada pihak terkait.
Hak Siar dan Strategi Tiket
Dalam hal komersial, FIFA menyepakati kerja sama hak siar dengan DAZN senilai 900 juta Euro hanya tiga bulan sebelum turnamen dimulai. Meski nilai kontraknya signifikan, turnamen tersebut justru ditayangkan secara gratis melalui aplikasi DAZN.
Tantangan lain muncul dari okupansi stadion yang tidak merata. FIFA terpaksa memangkas harga tiket hingga serendah 10 dolar AS atau sekitar Rp168.000 untuk beberapa pertandingan tertentu guna mengisi stadion yang kosong selama penyelenggaraan turnamen.
Ikuti Ihram.co.id
