— Harga Bitcoin (BTC) terpantau mengalami koreksi signifikan dalam sepekan terakhir, bahkan sempat menyentuh level terendah di US$ 87.563,4 pada Kamis (22/1/2026). Namun, di tengah penurunan tajam ini, fenomena menarik justru terjadi: para “pemain besar” atau yang dikenal sebagai whale, justru memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan aksi borong atau akumulasi Bitcoin dalam jumlah besar.

Data terbaru menunjukkan bahwa para whale ini telah mengakumulasi Bitcoin dalam jumlah besar, bahkan ada yang tercatat melakukan pembelian 1.000 BTC saat harga berada di bawah US$ 90.000. Aksi ini memberikan sinyal kepercayaan dari investor kakap terhadap aset kripto paling dominan tersebut, meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyatakan bahwa pola akumulasi oleh whale saat harga rendah sering kali menjadi indikator area yang menarik untuk dibeli. Namun, ia menekankan bahwa penguatan lebih lanjut masih memerlukan konfirmasi, mengingat tekanan dari sisi makroekonomi dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda.

Sentimen Pasar di Tengah Koreksi

Penurunan harga Bitcoin ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, serta penundaan ancaman tarif. Kondisi ini secara umum meningkatkan sentimen risiko (risk-off) di pasar keuangan global. Indeks Fear & Greed kripto pun tercatat naik tipis ke level 34, namun masih berada di area ketakutan (fear).

Kondisi pasar yang penuh tantangan ini juga berdampak pada aset kripto lainnya. Ethereum (ETH) melemah 10,28% ke harga US$ 2.957,46, dan token BNB juga terkoreksi 5,28% ke harga US$ 891,24. Namun, kedua token ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski masih mengalami koreksi.

Analisis Pergerakan ‘Whale’

Aktivitas whale yang membeli saat harga turun telah menjadi perhatian para analis. Data dari platform analitik kripto Glassnode menunjukkan bahwa jumlah dompet whale Bitcoin yang memegang lebih dari 1.000 BTC mengalami lonjakan. Fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi dari investor besar yang tampaknya tidak terpengaruh oleh volatilitas jangka pendek.

Analis berpendapat bahwa aksi beli oleh whale ini sering kali terjadi menjelang fase rebound, terutama ketika investor ritel menunjukkan tanda-tanda kepanikan atau melakukan penjualan. “Ketika whale aktif membeli di bawah US$ 90.000, itu biasanya mengindikasikan area tersebut dianggap menarik untuk akumulasi,” ujar Fyqieh Fachrur dikutip dari detikfinance.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemulihan ini masih perlu konfirmasi lanjutan karena tekanan dari sisi makro dan arus dana institusional belum sepenuhnya mereda.

Faktor Pendorong dan Prospek Jangka Panjang

Koreksi harga Bitcoin hingga di bawah level US$ 90.000 dipengaruhi oleh faktor global, termasuk kekhawatiran terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat dengan Eropa, dinamika geopolitik terkait isu Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang.

Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir turut mendorong investor global mencari aset yang lebih likuid, sehingga memperkuat sentimen risk-off secara luas.

Meskipun demikian, penurunan harga ini tidak serta merta mencerminkan pelemahan fundamental ekosistem Bitcoin dan kripto. Sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin matang dan terintegrasi dengan sistem keuangan global.

Dengan meningkatnya partisipasi investor institusional, Bitcoin kini menjadi lebih responsif terhadap dinamika makroekonomi, suku bunga, likuiditas global, serta isu geopolitik, serupa dengan aset global lainnya seperti saham dan komoditas.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai bahwa pergerakan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sentimen global dalam jangka pendek. “Fundamental aset digital tetap kuat, dan di situasi seperti ini penting bagi investor untuk mengambil keputusan secara tenang dan terukur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa data on-chain menunjukkan cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, menandakan kepercayaan investor jangka panjang tetap solid.

Prospek jangka panjang Bitcoin masih menunjukkan potensi pemulihan menuju level US$ 100.000, meskipun pemulihan ini masih memerlukan konfirmasi lanjutan. Faktor-faktor seperti kebijakan bank sentral, arus dana institusional, dan perkembangan regulasi global akan terus menjadi sorotan utama yang memengaruhi pergerakan harga Bitcoin di masa mendatang.