Pemerintah Jerman dan Indonesia menegaskan penguatan kemitraan strategis di bidang perdagangan, investasi, dan transisi energi berkelanjutan saat kunjungan resmi Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Jakarta pekan ini.
Dalam pertemuan itu, Steinmeier menekankan urgensi membangun hubungan yang dapat dipercaya antarnegara di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Dunia saat ini tampaknya terpecah belah, di mana politik kekuasaan dan ketidakpercayaan meningkat. Kemitraan yang kuat antara Jerman dan Indonesia sangatlah vital,” ujar Steinmeier pada Selasa (16/6/2026).
Dana dan Program yang Disepakati
Sebagai wujud konkret kerja sama, kedua negara menyepakati dua perjanjian keuangan bernilai triliunan rupiah.
Pertama, program Dukungan Ekonomi & Investasi (CITA) senilai 400 juta euro—sekitar Rp 8,2 triliun—yang ditandatangani antara Bank Pembangunan Jerman (KfW) dan Kementerian Keuangan RI. Program ini dirancang untuk mendukung reformasi ekonomi agar lebih inklusif dan kompetitif sesuai standar internasional.
Kedua, paket Akselerasi Energi Bersih senilai US$302 juta—sekitar Rp 5,35 triliun—yang disepakati antara KfW dan PT PLN (Persero). Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur jaringan listrik serta pembangkit tenaga surya dan angin guna mempercepat transisi energi nasional.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, mengatakan langkah itu juga dimaksudkan untuk merespons kenaikan harga energi global.
“Transisi ke energi terbarukan bukan hanya soal perlindungan iklim, tetapi juga kunci ketahanan energi kita,” kata Ralf Beste.
Rangka JETP dan Proyek Terkait
Kesepakatan ini merupakan bagian dari Just Energy Transition Partnership (JETP), di mana Jerman memimpin Kelompok Mitra Internasional (International Partners Group).
Pada Februari 2026, kedua negara telah menyetujui proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) dengan total nilai 308 juta euro—sekitar Rp 6,33 triliun. Proyek GECS mencakup pembangunan jalur transmisi 275 kV di Sulawesi Selatan untuk mengoptimalkan potensi energi terbarukan di wilayah tersebut.
Selain itu, Jerman mengumumkan komitmen alokasi dana sekitar 1 miliar euro—sekitar Rp 20,5 triliun—pada 2026 untuk kerja sama pembangunan dengan Indonesia.
Penguatan kemitraan ini dilihat sebagai langkah strategis di tengah tuntutan dekarbonisasi industri global. Bagi Indonesia, dukungan finansial dan teknis dari Jerman dinilai penting untuk mencapai target Net Zero Emission pada 2060.
Melalui skema JETP, Indonesia tidak hanya memperoleh dukungan pendanaan, tetapi juga akses terhadap keahlian teknologi serta standar keberlanjutan yang diperlukan untuk pergeseran dari bahan bakar fosil ke sumber energi baru terbarukan.
Ikuti Ihram.co.id
