Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan pada Juni 2026 terbukti efektif meredam gejolak pasar keuangan domestik.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebutkan kenaikan bertahap BI-Rate telah membantu menjaga nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam kisaran yang lebih stabil.

Peningkatan Suku Bunga Bertahap

Susiwijono mencatat BI menaikkan suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin dalam sebulan terakhir, termasuk kenaikan terbaru 25 basis poin menjadi 5,75%.

Menurutnya, kebijakan itu membuat rupiah relatif terkendali di kisaran Rp17.700–Rp17.800 dan IHSG masih bertahan di atas 6.000 pada beberapa hari terakhir.

— “Saya kira BI sudah mempertimbangkan semuanya dan alhamdulillah hasilnya kan juga cukup baik. Rupiah relatif terkendali di kisaran Rp17.700-17.800. tidak sampai ke Rp18.000. IHSG(Indeks Harga Saham Gabungan) juga dalam beberapa hari ini masih di atas 6.000. Jadi memang cukup efektif,” ujar Susiwijono Moegiarso di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat (19/6/2026).

Perkembangan Pasar Saat Pembukaan

Sebelumnya, kenaikan suku bunga acuan dimulai pada Mei 2026 sebesar 50 basis poin dari 4,75% ke 5,25%, lalu naik 25 basis poin menjadi 5,5% pada RDG Mingguan 9 Juni 2026, sebelum mencapai 5,75%.

Pada pembukaan perdagangan Jumat 19 Juni 2029, nilai tukar rupiah sempat melemah 54 poin (0,3%) ke level Rp17.848 per dolar AS dan ditutup melemah tipis 7 poin ke level Rp17.801 terhadap dolar AS.

Pertimbangan Kebijakan Moneter

Susiwijono menyatakan BI mengacu pada kondisi perekonomian global dan domestik saat menentukan suku bunga acuan, termasuk kebijakan suku bunga Federal Reserve AS.

“Yang kita khawatirkan kan kalau ada kenaikan. Kalau kenaikan kan pasti akan menarik outflow (modal asing) dari kita (Indonesia). Faktanya mereka cukup mempertahankan suku bunga yang ada. Saya kira cukup realistis sambil untuk mengontrol inflasinya yang masih tinggi,” tutur dia.

Respons Ekonom terhadap Kenaikan BI-Rate

Chief Economist Indonesian Business Council Denni Purbasari menyambut kenaikan BI-Rate sebagai langkah yang dapat dipahami di tengah tekanan global, termasuk keputusan Federal Reserve dan langkah BoJ menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1%.

Denni menilai Indonesia, sebagai small open economy, tidak bisa sepenuhnya lepas dari dinamika global, dan perbedaan suku bunga dengan negara maju memengaruhi arus modal, nilai tukar, serta stabilitas sistem keuangan.

“Namun, stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya bertumpu pada suku bunga. Indonesia membutuhkan bauran kebijakan yang lebih kredibel, terutama melalui disiplin fiskal, penguatan ruang fiskal, dan konsistensi arah kebijakan ekonomi agar tekanan terhadap rupiah dapat mereda secara lebih berkelanjutan,” ujar Denni.