Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menegaskan kesiapan menghadapi puncak fenomena El Nino yang diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026. Upaya difokuskan pada ketersediaan stok pangan dan penguatan infrastruktur air untuk menjaga produksi pertanian.
Kementan mencatat stok beras di gudang Bulog mencapai 5,3 juta ton, angka yang disebut sebagai level tertinggi dalam sejarah. Selain itu, kementerian menyiapkan langkah strategis lainnya untuk mengantisipasi ancaman kekeringan.
Langkah Pengelolaan Air dan Irigasi
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan pihaknya telah memetakan wilayah rawan kekeringan dan menguatkan sistem peringatan dini (early warning system atau EWS). Koordinasi dengan gubernur dan bupati juga dimintakan untuk pelaksanaan langkah antisipasi di lapangan.
Isi surat edaran yang disebarkan berisi lima item aksi, antara lain perbaikan dan rehabilitasi saluran air saat musim kering serta pendataan embung dan waduk yang dapat dimanfaatkan. “Kemudian saluran-saluran air… ini mestinya dilakukan perbaikan, rehab-rehab saluran-saluran air… Kemudian menjaga embung-embung, waduk-waduk didata mana yang bisa dipakai,” ujar Suwandi di Gedung Bakom RI, Rabu (17/6/2026).
Kementan mendorong optimalisasi pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, sumur air dangkal, serta sumber air lainnya. Pemerintah juga mengoptimalkan pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Distribusi pompa juga dipercepat. “Sekarang sedang didistribusikan pompa-pompa yang bisa menjangkau tambahnya saja 1 juta hektar harus dipasang di bulan Juni-Juli sehingga di saat dibutuhkan sudah siap. Belum pompa-pompa yang tahun lalu itu meng-cover 2 juta hektar, sekarang juga sama. Plus sekarang tambah pompa, irigasi perpompaan, saluran-saluran 2 juta hektar juga coverage-nya nanti supaya segera berfungsi,” kata Suwandi.
Strategi Tanam dan Adaptasi
Selain penguatan infrastruktur, pemerintah mempercepat musim tanam di wilayah potensial dengan varietas yang lebih tahan kering. Pengaturan pola tanam disesuaikan dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di tiap wilayah.
Petani didorong menerapkan pola tanam adaptif, termasuk mengganti komoditas yang membutuhkan banyak air dengan tanaman yang lebih tahan kekeringan untuk mengurangi risiko gagal panen.
Persiapan Mitigasi Produksi
Kementan menyiapkan mitigasi risiko produksi melalui asuransi pertanian, bantuan benih, dan pengelolaan risiko. Penjadwalan tanam bertahap juga diberlakukan agar potensi kehilangan hasil dapat ditekan.
“Ada beberapa daerah juga terima kasih Asuransi Usaha Tani. Jadi kalau kena gagal panen atau puso istilahnya, itu ada asuransinya 6 juta per hektar itu bagi lahan-lahan yang diasuransikan,” ujar Suwandi.
Pemerintah juga mengajukan pelaksanaan modifikasi cuaca kepada BMKG untuk mendukung ketersediaan air di wilayah rawan kekeringan. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain dilakukan agar langkah antisipasi, adaptasi, dan mitigasi dapat berjalan efektif.
Suwandi menambahkan bahwa kesiapan tersebut difokuskan pada periode Juli, Agustus, dan September, dengan harapan tanda-tanda curah hujan mulai kembali pada Oktober. “Ini yang akan memberikan ke kita kepastian dan kesiapsiagaan kita apa yang disebut langkah antisipasi dini, adaptasi, dan mitigasi… terkait dengan antisipasi kekeringan dan nanti sudah kita siapkan bulan Juli, Agustus, September. Nanti Oktober sudah mulai tanda-tanda biasanya musim ada hujan,” tutupnya.
Ikuti Ihram.co.id
