Ihram.co.id — Harga emas dunia terus mencatatkan rekor tertinggi, menembus level di atas US$5.500 per troy ons pada akhir Januari 2026. Penguatan signifikan ini didorong oleh kombinasi faktor geopolitik global yang memanas, kekhawatiran inflasi yang persisten, serta dinamika kebijakan moneter bank sentral utama dunia.
Investor kembali menjadikan emas sebagai aset safe haven pilihan di tengah ketidakpastian yang terus membayangi pasar keuangan global.
Pada Kamis (29/1/2026), Harga emas spot bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi baru di USD5.591,61 per ons, sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran USD5.554,76 per ons pada penutupan perdagangan.
Lonjakan ini melanjutkan reli yang telah berlangsung sejak awal tahun, bahkan sepanjang tahun 2025, harga emas telah melonjak lebih dari 25%. Di pasar domestik Indonesia, harga emas Antam juga dilaporkan menembus Rp3 juta per gram, mencetak rekor baru.
Ketegangan Geopolitik Memicu Permintaan Aset Aman
Salah satu pendorong utama kenaikan harga emas yang berkelanjutan adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Konflik yang belum terselesaikan, seperti pertempuran antara Rusia dan Ukraina, serta tensi yang meningkat di Timur Tengah, termasuk insiden yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, telah menciptakan ketidakpastian yang signifikan di pasar. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap aman seperti emas untuk melindungi nilai kekayaan mereka dari potensi gejolak politik dan ekonomi.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyatakan bahwa pergerakan geopolitik dunia yang memanas menjadi penyebab utama kenaikan harga emas. Ia menjelaskan bahwa banyak negara kini meningkatkan cadangan emas mereka sebagai respons terhadap pembekuan cadangan devisa negara-negara Barat terhadap Rusia pasca-invasi Ukraina.
Hal ini memicu peningkatan permintaan emas secara global. Negara-negara seperti China dan India juga dilaporkan ikut menimbun emas karena kekhawatiran terhadap stabilitas cadangan dolar AS mereka.
Inflasi yang Persisten Menjaga Momentum Emas
Faktor kedua yang turut mendongkrak harga emas adalah laju inflasi yang dinilai masih “bandel” dan belum sepenuhnya terkendali. Meskipun bank sentral utama dunia berupaya menekan inflasi, angka inflasi di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat masih berada di atas target ideal 2%.
Inflasi yang tinggi mengikis daya beli mata uang dan menciptakan kecemasan di pasar modal. Dalam situasi seperti ini, emas kembali dilihat sebagai alat lindung nilai (hedging) yang efektif untuk menjaga kekayaan dari penurunan nilai akibat inflasi. Sejarah mencatat bahwa emas selalu menjadi pilihan utama di saat-saat ketidakpastian ekonomi dan inflasi tinggi.
Kebijakan Moneter dan Kepercayaan Terhadap Dolar AS
Pergerakan kebijakan moneter bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, juga memainkan peran krusial. Meskipun The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%-3,75%, pasar menilai bahwa potensi pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang tetap terbuka.
Hal ini didukung oleh adanya perbedaan pendapat di antara para pejabat The Fed yang mengusulkan pemangkasan suku bunga.
Selain itu, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) turut mendorong permintaan emas. Presiden AS Donald Trump bahkan mengindikasikan adanya toleransi terhadap pelemahan dolar, yang mengindikasikan potensi kebijakan menuju dolar yang lebih lemah ke depan.
Dolar AS yang terus melemah dan menghadapi krisis kepercayaan membuat investor semakin beralih ke emas sebagai aset yang lebih stabil dan bebas dari risiko kebijakan mata uang tertentu.
“Emas bukan sekadar komoditas biasa, tetapi penyimpan nilai yang dipercaya lintas generasi, lintas zaman, dan lintas siklus ekonomi,” ujar Gundy Cahyadi, Research Director Prasasti Center for Policy Studies. Posisi unik emas sebagai aset yang relatif independen dari risiko kebijakan suatu negara atau mata uang menjadikannya pilihan menarik di tengah kompleksitas pasar global saat ini.
Analis memperkirakan tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut. Deutsche Bank bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$6.000 per ons pada tahun 2026. Proyeksi ini didukung oleh permintaan investasi yang terus mengalir dari bank sentral dan investor global yang meningkatkan alokasi ke aset riil dan non-dolar.
Ikuti Ihram.co.id
