— Panggung M7 World Championship telah usai. Gemuruh sorak-sorai penonton di Jakarta perlahan mereda seiring diangkatnya piala oleh Aurora PH. Bagi Alter Ego, skor telak 4-0 di papan skor Grand Final mungkin terasa menyakitkan. Namun, jika menoleh ke belakang, keberadaan mereka di panggung terakhir ini adalah sebuah keajaiban yang tak terprediksi.

Alter Ego datang ke M7 bukan sebagai favorit juara. Namun, mereka pulang dengan status Runner-Up dunia, sebuah pencapaian yang membungkam ribuan keraguan yang sempat mengiringi langkah mereka sejak awal turnamen.

Bukan Favorit, Tapi Kuda Hitam

Memulai kampanye M7, sorotan publik tidak sepenuhnya tertuju pada Alter Ego. Dengan komposisi roster yang memadukan pemain lama dan baru, banyak analis yang skeptis tim ini bisa melangkah jauh. Dibandingkan dengan tim-tim raksasa Filipina atau kompatriot mereka yang lebih diunggulkan, Alter Ego dianggap masih memiliki celah dalam konsistensi.

Prediksi “pulang cepat” sempat menghantui. Namun, Alter Ego menjawabnya dengan performa di Land of Dawn. Perlahan tapi pasti, mereka menyingkirkan tim-tim unggulan satu per satu di fase Knockout, menunjukkan mentalitas baja yang selama ini menjadi ciri khas tim berlogo tiga wajah tersebut.

Satu-satunya Harapan Tuan Rumah

Beban di pundak Nino dan kawan-kawan semakin berat ketika mereka menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang tersisa di babak puncak. Tekanan untuk “memulangkan piala” di kandang sendiri begitu masif.

Di fase ini, Alter Ego menunjukkan evolusi gameplay yang signifikan. Kombinasi Nolan dari Arfy dan penguasaan midlane dari Hijumee menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawan mereka sebelum final. Mereka bukan lagi tim yang hanya mengandalkan momentum, tetapi tim dengan strategi matang yang layak diperhitungkan dunia.

Antiklimaks di Grand Final

Sayangnya, dongeng indah itu harus terhenti di hadapan “tembok raksasa” bernama Aurora PH. Di babak Grand Final, Alter Ego dipaksa mengakui keunggulan lawannya dalam empat game langsung.

Kepala Tegak, Alter Ego!

Kalah 0-4 di final memang pahit. Tetapi, menjadi tim terbaik kedua di dunia dari ratusan tim yang berkompetisi adalah prestasi yang patut dirayakan. Alter Ego telah membuktikan bahwa kerja keras dan chemistry tim mampu mematahkan prediksi di atas kertas.

M7 World Championship mungkin berakhir dengan air mata bagi Alter Ego, tetapi ini bukanlah akhir. Ini adalah fondasi baru bagi Nino, Hijumee, Alekk, Yazukee, dan Arfy untuk kembali lebih kuat. Terima kasih telah berjuang, Alter Ego!

Roster Alter Ego (Runner-up M7):

  • Gold Laner: Nino
  • Exp Laner: Alekk
  • Mid Laner: Hijumee
  • Roamer: Yazukee
  • Jungler: Arfy