— Debut Toprak Razgatlioglu di MotoGP 2026 diprediksi tidak akan berjalan mudah. Mantan prinsipal tim MotoGP, Livio Suppo, menilai pebalap asal Turki itu hampir mustahil bisa langsung bersaing di barisan depan pada musim pertamanya di kelas premier.

Toprak Razgatlioglu resmi naik kelas ke MotoGP bersama Pramac Racing dengan dukungan Yamaha, setelah sebelumnya meraih kesuksesan besar di ajang Superbike World Championship (WSBK). Dalam lima musim terakhir, ia mengoleksi tiga gelar juara dunia dan dikenal sebagai salah satu spesialis pengereman paling agresif di lintasan.

Namun, menurut Suppo, keberhasilan di Superbike tidak otomatis menjamin transisi mulus ke MotoGP.

Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Nilai Gaya Balap Nicolo Bulega Lebih Cocok di Sepang, Ini Alasannya

Ekspektasi Tinggi, Realitas Berbeda

Dalam perbincangan di podcast Oxley Bom MotoGP, Suppo membandingkan situasi Razgatlioglu dengan rookie lain musim 2026, yakni Diogo Moreira yang direkrut LCR Honda usai menjuarai Moto2 2025.

Menurut Suppo, tekanan publik terhadap Razgatlioglu jauh lebih besar.

“Banyak orang berpikir karena dia sangat kuat di Superbike, dia akan langsung kompetitif di MotoGP. Tapi bagi kami yang berpengalaman, itu sangat mustahil,” ujar Suppo.

Ia menilai ekspektasi tinggi justru bisa menjadi beban. Sebaliknya, Moreira datang tanpa tuntutan besar untuk langsung memenangi balapan, sehingga memiliki ruang adaptasi lebih lega.

Baca Juga: Diogo Moreira Disebut Punya Bakat Setara Marc Marquez, Debut Rookie jadi Sorotan MotoGP 2026

Tes Pramusim Penuh Tantangan

Proses adaptasi Razgatlioglu sudah terlihat tidak mudah sejak tes pramusim di Sepang. Ia kehilangan satu hari pengujian akibat kendala mesin pada motor Yamaha berkonfigurasi V4. Salah satu unit mesin bahkan dilaporkan mengalami kerusakan.

Selain persoalan teknis, pebalap berusia 29 tahun itu juga menghadapi kendala ergonomi. Postur tubuhnya membuat konfigurasi aerodinamika motor sempat melanggar regulasi, sehingga tim harus melepas winglet belakang saat tes di Malaysia.

Menjelang tes lanjutan di Buriram, Thailand—yang juga akan menjadi seri pembuka musim—Yamaha disebut masih tertinggal dibanding pabrikan rival dari sisi performa mesin dan kecepatan puncak.

Perbedaan Karakter Motor Jadi Kunci

Perbedaan mendasar antara motor WSBK dan MotoGP menjadi tantangan terbesar. Motor MotoGP memiliki sistem elektronik, karakter ban, dan aerodinamika yang jauh lebih kompleks.

Razgatlioglu dikenal dengan gaya balap agresif dan pengereman keras khas Superbike. Namun, motor Yamaha MotoGP tidak dirancang mengikuti gaya tersebut. Ia bahkan terlihat mencoba setang dengan ukuran lebih besar demi mendapatkan kenyamanan posisi berkendara.

Sejumlah pengamat menilai pendekatan itu tidak cukup. Adaptasi penuh terhadap karakter motor, termasuk manajemen ban dan elektronik, menjadi syarat utama untuk bisa kompetitif di MotoGP.

2026 Diprediksi Jadi Musim Adaptasi

Secara realistis, musim 2026 diperkirakan akan menjadi tahun pembelajaran bagi Razgatlioglu. Target paling masuk akal adalah finis konsisten di zona poin sambil memahami karakter motor dan dinamika persaingan di kelas premier.

Meski demikian, talenta dan mental juara yang dimilikinya tetap menjadi modal penting bagi Yamaha dan Pramac dalam jangka panjang. Jika proses adaptasi berjalan progresif, peluang untuk bersaing di musim berikutnya tetap terbuka.

Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Akui Tes Sepang 2026 Sulit, Prediksi Lima Balapan Pertama Menantang

MotoGP 2026 akan menjadi fase transisi krusial bagi Razgatlioglu—dari dominasi di Superbike menuju panggung persaingan paling ketat dalam dunia balap motor.