Manado — Pentingnya membangun lingkungan pendidikan yang mengakomodasi beragam kebutuhan belajar menjadi sorotan dalam workshop “Neurodiversity as a Strength: Strengthening Collaboration in Inclusive Education” yang digelar di Manado, Sulawesi Utara. Kegiatan ini dihadiri 109 peserta dari 31 institusi dan mempertemukan beragam pemangku kepentingan.

Workshop yang diselenggarakan oleh MagnaMinds itu melibatkan perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, guru, psikolog, terapis, kepala sekolah, pengelola sekolah inklusi, mahasiswa, orang tua, serta pihak terkait lainnya. Kegiatan dibuka oleh Wali Kota Manado, Andrei Angouw.

“Kekayaan sebuah negara adalah sumber daya manusianya. Ini adalah pekerjaan rumah kita semua,” ujar Andrei Angouw dalam sambutannya.

Dialog dan Kolaborasi Beragam Pihak

Peserta menggunakan forum tersebut untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mendukung anak-anak dengan kebutuhan perkembangan berbeda. Diskusi menekankan perlunya penguatan kolaborasi antara sekolah inklusi, pusat terapi, pendidik, terapis, psikolog, dan orang tua agar dukungan terhadap anak lebih konsisten di dalam dan di luar sekolah.

Dalam sesi pemaparan, Anita Chandra dari Agents of Behavior Change (ABC) menekankan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat tentang kebutuhan perkembangan dan gaya belajar membuat pendidikan inklusif kian penting. “Ketika kita berbicara mengenai inklusivitas di masa depan, jumlah anak dengan kebutuhan khusus terus meningkat. Karena itu, inklusivitas tidak bisa diabaikan dan harus dipersiapkan dengan baik,” ujar Anita.

Margaretha T. Kuera, psikolog klinis dan praktisi CBT, menyoroti kebutuhan pembangunan sistem pendidikan yang mampu mengakomodasi tiap anak. Menurutnya, “Keberagaman adalah fakta, keadilan adalah pilihan, inklusi adalah aksi, dan hasilnya adalah perasaan diterima sebagai bagian dari masyarakat.”

Respon Peserta dan Kebutuhan Pelatihan

Peserta menyatakan materi memperkaya wawasan mereka tentang pendidikan khusus dan inklusi. Fatihah Masloman, mahasiswi psikologi dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon, mengatakan acara ini menambah relasi dan memperluas pemahaman tentang dunia pendidikan inklusi.

“Acara ini bukan hanya sekadar untuk bertukar pikiran, tetapi kami juga mendapat banyak relasi baru dan tentunya wawasan kami di dunia pendidikan inklusi menjadi lebih luas,” kata Fatihah. Ia menambahkan dorongan untuk mengajak kaum muda berpartisipasi aktif dalam inklusivitas pendidikan.

Lini Mondigir, ketua Sekolah Inklusi Amadeus, menekankan bahwa setiap anak memiliki kekuatan dan kebutuhan berbeda sehingga memerlukan pendekatan yang disesuaikan. “Anak-anak itu berbeda, tetapi berbeda bukan berarti kurang. Mereka memiliki cara bertumbuh dan belajar yang berbeda,” ujarnya.

Dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Utara, Merry Christian Wuisan menyatakan termotivasi untuk menggalakkan pendidikan inklusi. “Mari kita bersama-sama dengan pemerintah pusat mengelola sekolah yang menerima dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, serta berkolaborasi dengan baik agar anak-anak ini dapat memperoleh hak dan kewajiban yang setara dengan anak-anak di sekolah reguler,” kata Merry.

Deteksi Dini dan Peluncuran Buku Panduan

Para narasumber menekankan pentingnya deteksi dan intervensi dini bagi anak dengan kebutuhan perkembangan khusus. Mereka menyatakan semakin cepat kebutuhan dikenali, semakin besar peluang untuk memberikan dukungan dan terapi yang tepat.

Selain sesi edukasi, workshop ini menjadi momentum peluncuran buku “Panduan Praktis Neurodiversitas” yang ditulis oleh Ryan Winston Angouw dan dibagikan gratis kepada peserta. Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro memberikan kata pengantar dan menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut.

MagnaMinds sendiri didirikan setahun lalu oleh Ryan Winston Angouw. Menurut Ryan, workshop bertujuan memberikan pemahaman praktis mengenai pendekatan inklusif, strategi komunikasi, serta adaptasi lingkungan yang mendukung individu neurodivergen, termasuk mereka yang hidup dengan autisme, ADHD, dan disleksia.

“Kami berharap setiap peserta pulang dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana menerapkan inklusivitas di lingkungan masing-masing. Guru, terapis, psikolog, mahasiswa, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang lebih ramah dan mendukung bagi individu neurodivergen,” ujar Ryan.

Benang Merah: Ekosistem Pendukung

Sepanjang workshop muncul kesimpulan bahwa keberhasilan pendidikan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh ekosistem di sekitarnya. Kolaborasi antara orang tua, guru, terapis, psikolog, tenaga kesehatan, dan masyarakat dianggap kunci untuk membantu anak berkembang sesuai potensinya.

MagnaMinds menyatakan ingin terus menjadi wadah yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membangun pemahaman yang lebih baik tentang neurodiversitas, sejalan dengan filosofi “Not All Great Minds Think Alike.”