— Sebuah pesawat eVTOL (electric vertical takeoff and landing) atau yang familiar disebut mobil terbang dengan konsep modular buatan China berhasil melakukan penerbangan perdana pada 6 Februari 2026 di Bandar Udara Yongchuan Da’an, Chongqing.

Uji coba ini menandai kemajuan penting dalam pengembangan kendaraan hibrida yang dapat berfungsi sebagai pesawat dan kendaraan darat listrik sekaligus.

Pesawat ini dikembangkan oleh Ninth Academy of China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), lembaga milik negara yang fokus pada teknologi aerospace dan pertahanan.

Desain Modular: Terbang dan Berkendara dalam Satu Kendaraan

Konsep Mobil Terbang Modular Produksi Casc
Foto: People’s Daily via Car News China

Mobil terbang ini memiliki konfigurasi modular yang terdiri dari tiga komponen utama:

  1. Modul sayap sebagai unit terbang,
  2. Kabinnya untuk penumpang,
  3. Modul chassis/landasan sebagai kendaraan darat listrik.

Pada penerbangan perdana, modul udara membawa dua penumpang dengan kecepatan maksimum 150 km/jam pada ketinggian di bawah 3.000 meter. Sementara itu, modul darat yang berbasis chassis listrik pintar (by-wire) mampu menempuh jarak lebih dari 300 km dengan sekali pengisian baterai.

Desain modular ini dilengkapi dengan mekanisme otomatis untuk menghubungkan dan memisahkan modul, memungkinkan kendaraan beralih antara mode terbang dan darat tanpa campur tangan pengguna. Sistem ini juga mendukung kustomisasi kabin, tipe chassis, dan konfigurasi sayap sesuai kebutuhan operasional.

Verifikasi Performa Awal Berhasil

Konsep Mobil Terbang Modular Produksi Casc 2
Foto: People’s Daily via Car News China

CASC menyatakan bahwa penerbangan perdana eVTOL modular ini berhasil menyelesaikan serangkaian uji performa awal yang krusial untuk memastikan keselamatan dan kelayakan operasional.

Selama uji coba, pesawat mampu melakukan takeoff vertikal yang terkontrol, mempertahankan stabilitas saat terbang maju, dan melakukan transisi mulus dari mode udara ke darat. Keberhasilan ini menandai bahwa sistem modul terbang dan darat dapat bekerja secara sinkron tanpa gangguan.

Meski demikian, CASC menekankan bahwa masih diperlukan uji lanjut, termasuk penerbangan berulang dalam berbagai kondisi cuaca dan skenario operasi, serta persetujuan regulasi dari otoritas penerbangan sipil sebelum eVTOL ini dapat digunakan secara komersial.

Pihak pengembang juga menekankan bahwa data dari uji perdana ini akan digunakan untuk mengoptimalkan stabilitas, efisiensi energi, dan keamanan modul sebelum peluncuran operasional.

Potensi Transportasi Urban dan Logistik

eVTOL modular ini dirancang untuk menghadirkan solusi mobilitas fleksibel di perkotaan dan wilayah terpencil. Dengan kemampuan terbang hingga 150 km/jam dan jarak tempuh darat lebih dari 300 km, kendaraan ini memungkinkan pengiriman cepat, transportasi penumpang, dan respons darurat di kota maupun daerah sulit dijangkau.

CASC menyatakan, modularitas kendaraan memungkinkan konfigurasi kabin penumpang, kargo, atau ambulans udara-darat, sehingga satu platform dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan operasional. Sistem listrik pintar dan by-wire chassis juga memastikan efisiensi energi saat bergerak di darat, sementara teknologi terbang memastikan keselamatan dan stabilitas dalam penerbangan rendah.

Analis industri menyebut, eVTOL modular seperti ini berpotensi menjadi solusi transportasi urban baru, terutama di kota-kota dengan kepadatan tinggi atau daerah terpencil yang sulit dijangkau kendaraan konvensional.

Perbandingan dengan Inisiatif eVTOL Lain di China

Pengembangan eVTOL modular CASC memiliki kesamaan konsep dengan beberapa proyek mobil terbang China lainnya, seperti yang dikembangkan oleh XPeng. Misalnya, XPeng X2 telah melakukan penerbangan uji berawak sejak 2023, termasuk lintasan melintasi sungai dan danau, serta Land Aircraft Carrier, yang menempatkan modul terbang dalam sasis EV besar.

Perbedaan utama terletak pada struktur dan fleksibilitas modul: CASC menggunakan unit modul yang terpisah dan dapat terhubung atau dilepas secara otomatis, sedangkan XPeng menyimpan modul terbang di dalam satu kendaraan EV besar, sehingga desain CASC lebih fleksibel untuk kustomisasi misi.

Dengan keberhasilan uji ini, CASC memperkuat posisi China dalam pengembangan teknologi low-altitude aviation, sekaligus menunjukkan kemajuan signifikan negara dalam mengintegrasikan transportasi udara dan darat berbasis listrik. Proyek ini diyakini akan menjadi dasar untuk inovasi transportasi perkotaan, logistik cepat, dan respons darurat di masa mendatang.