Inflasi yang masih dinilai terkendali oleh pemerintah ternyata memberi beban nyata bagi masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari membuat daya beli kelompok berpendapatan rendah semakin tergerus.

Peningkatan biaya hidup terasa sejak kenaikan harga BBM nonsubsidi, sementara pendapatan banyak rumah tangga cenderung stagnan atau turun. Kondisi itu memaksa masyarakat menunda pembelian barang sekunder dan tersier, serta lebih berhati-hati dalam pengeluaran.

Dampak Inflasi Menurut Data Resmi

Pada 2 Juni 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional Mei 2026 sebesar 0,28% secara bulanan, 3,08% secara tahunan, dan 1,35% secara tahun kalender. Angka tahunan itu berada dalam kisaran target pemerintah dan Bank Indonesia untuk 2026, yakni 1,5%–3,5%.

BPS melaporkan inflasi terjadi merata pada tiga komponen utama: inti, pangan bergejolak (volatile food), dan harga yang diatur pemerintah (administered price). Inflasi inti Mei tercatat 0,22% bulanan dan 2,59% tahunan. Komponen pangan bergejolak naik 0,22% bulanan dan 6,24% tahunan, sementara komponen harga yang diatur pemerintah masing-masing 0,52% bulanan dan 2,07% tahunan.

Pelemahan nilai tukar rupiah disebut turut membuat harga barang impor dan bahan baku menjadi lebih mahal, sehingga menekan biaya produksi pelaku usaha dan mendorong kenaikan harga jual. Bank Indonesia melaporkan nilai tukar rupiah sepanjang Mei 2026 berada di kisaran Rp17.362–Rp17.883 per dolar AS, di atas asumsi dalam APBN 2026 yang dipatok pada Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS.

BPS mencatat beberapa komoditas penyumbang inflasi inti, antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop/notebook, dan pelumas/oli mesin. Untuk komoditas pangan pokok, beberapa kenaikan yang terlihat di pasar adalah cabai merah inflasi bulanan 25,64%, tomat 9,82%, bawang merah 6,65%, minyak goreng 2,87%, dan beras 0,38%.

Rantai Dampak Ekonomi

Inflasi menggerus daya beli rumah tangga, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak meningkat, kemampuan membeli barang dasar otomatis berkurang.

Di sektor usaha, inflasi menciptakan ketidakpastian. Perusahaan menghadapi dilema antara menekan biaya produksi dan memenuhi tuntutan kenaikan upah pekerja. Tekanan biaya yang meningkat dapat memicu siklus kenaikan biaya produksi yang selanjutnya berdampak pada harga jual.

Jika inflasi tidak dikelola, ada risiko berlanjut pada penurunan kapasitas produksi dan pemutusan hubungan kerja. Beberapa perusahaan dilaporkan mengurangi kapasitas akibat turunnya pemesanan dan meningkatnya biaya produksi, kondisi yang berpotensi mendorong pelaksanaan PHK.

Kelompok Paling Terdampak

Kelompok rentan yang paling merasakan dampak adalah pekerja informal, buruh, masyarakat berpenghasilan rendah, serta kelas menengah. Keterbatasan kemampuan mereka membiayai kebutuhan hidup membuat tekanan inflasi menjadi masalah serius.

Pakar yang menulis analisis ini menekankan perlunya pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, tetapi juga memastikan bantuan sosial yang digulirkan tepat sasaran. Penggunaan dana APBN perlu diarahkan untuk program bantuan sosial yang terukur agar beban masyarakat dapat diredam.

Langkah Adaptasi Rumah Tangga

Di tingkat rumah tangga, penulis menyarankan pemisahan tegas antara kebutuhan pokok (needs) dan keinginan (wants), menunda pembelian konsumtif yang tidak mendesak, dan mempersiapkan dana darurat yang mudah dicairkan namun relatif aman dari fluktuasi jangka pendek.

Penulis menyatakan inflasi saat ini tidak hanya berdasar pada makanan atau energi, tetapi telah merambat ke biaya produksi serta harga barang dan jasa yang lebih luas. Oleh karena itu, perencanaan keuangan yang lebih cermat menjadi langkah penting menghadapi tekanan inflasi.

*) Guru Besar Sosiologi Ekonomi dan Ketua Badan Pertimbangan Fakultas (BPF) FISIP Universitas Airlangga.