Ihram.co.id — Pelatih veteran Dick Advocaat secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pelatih kepala Timnas Curacao dengan segera. Keputusan mengejutkan ini diambil oleh pelatih berusia 78 tahun tersebut demi memprioritaskan keluarganya di tengah masa-masa yang menantang. Advocaat, yang telah membawa negara Karibia tersebut meraih kualifikasi bersejarah untuk Piala Dunia 2026, tidak akan mendampingi timnya di turnamen akbar tersebut yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada musim panas ini.
Keputusan sulit ini didorong oleh masalah pribadi yang mendalam terkait kesehatan putrinya. Advocaat, yang memiliki rekam jejak lebih dari empat dekade di dunia kepelatihan, menegaskan bahwa tanggung jawab sebagai ayah jauh lebih penting daripada kesempatan untuk memimpin sebuah negara di panggung sepak bola dunia.
“Saya selalu mengatakan bahwa keluarga lebih penting daripada sepak bola,” ujar Advocaat dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Federasi Sepak Bola Curacao (FFK). “Jadi ini adalah keputusan yang wajar. Namun demikian, saya akan sangat merindukan Curacao, orang-orang di sana, dan rekan-rekan saya.”
Pencapaian Bersejarah yang Terhenti
Masa bakti Advocaat di Curacao akan selalu dikenang sebagai periode pencapaian olahraga yang monumental. Ia berhasil memimpin negara pulau kecil tersebut melalui kampanye kualifikasi CONCACAF yang sangat berat. Pada November 2025, Advocaat memimpin tim meraih posisi bersejarah di babak final Piala Dunia, menjadikan Curacao sebagai negara terkecil dalam sejarah turnamen tersebut dengan populasi hanya sekitar 156.000 jiwa. Meskipun absen dalam pertandingan penentu melawan Jamaika karena alasan keluarga, dampaknya terhadap kemunculan tim di Piala Dunia tidak terbantahkan.
Menyikapi pencapaian bersejarah ini, Advocaat mengungkapkan kebanggaan yang luar biasa atas warisan yang ia tinggalkan bagi sepak bola Curacao. “Saya menganggap kualifikasi negara FIFA terkecil di dunia untuk Piala Dunia sebagai salah satu puncak karier saya,” kata Advocaat. “Saya bangga pada para pemain, staf, dan anggota dewan yang percaya pada kami.”
Rekor Pelatih Tertua Gagal Tercipta
Dengan mundurnya Advocaat saat ini, namanya tidak akan tercatat dalam buku sejarah sebagai manajer tertua yang memimpin tim di final Piala Dunia. Pada usia 78 tahun, ia seharusnya menjadi manajer tertua dalam sejarah turnamen tersebut. Rekor ini masih dipegang oleh ikon Jerman, Otto Rehhagel, yang berusia 71 tahun dan 317 hari saat memimpin pertandingan terakhir Yunani di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Mengingat rekam jejak Advocaat yang pernah kembali dari masa pensiun, masih terbuka kemungkinan ia akan kembali ke dunia kepelatihan di masa mendatang.
Federasi Sepak Bola Curacao Hormati Keputusan
FFK merespons keputusan pengunduran diri pelatihnya dengan penuh pengertian dan rasa terima kasih atas kerja transformatif yang telah dilakukannya. “Kami hanya bisa menghormati keputusannya,” ujar ketua federasi, Gilbert Martina. “Dick telah menorehkan sejarah bersama tim nasional sepak bola. Curacao akan selalu berterima kasih kepada Dick.”
Fred Rutten Ditunjuk Sebagai Pengganti
Menyikapi transisi ini, FFK bergerak cepat untuk menunjuk pengganti guna memastikan stabilitas tim menjelang pertandingan pembuka melawan Jerman pada 14 Juni. Fred Rutten, mantan manajer PSV dan Schalke yang berusia 63 tahun, telah resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala baru. Rutten akan memimpin tim yang tergabung di Grup E bersama Jerman, Ekuador (21 Juni), dan Pantai Gading (25 Juni).
Transisi kepelatihan ini terjadi pada saat yang sangat krusial bagi Curacao. Meskipun keahlian taktis Advocaat akan dirindukan, fondasi yang telah ia bangun memberikan skuad yang kompetitif kepada Rutten. Dunia sepak bola kini menantikan apakah ‘The Blue Wave’ dapat menghormati karya Advocaat dengan menciptakan kejutan di panggung terbesar, meskipun arsitek utama mereka harus menyaksikan dari rumah bersama keluarganya.
Ikuti Ihram.co.id
