— Pemerintah memastikan tidak akan memberikan insentif pembelian sepeda motor listrik sepanjang 2026. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita untuk mengakhiri spekulasi yang berkembang di masyarakat maupun di kalangan pelaku industri otomotif.

Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah melakukan kajian menyeluruh terhadap kondisi fiskal negara serta menimbang efektivitas kebijakan insentif terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan hasil evaluasi, insentif Motor listrik dinilai belum menjadi prioritas utama dalam paket kebijakan sektor otomotif tahun ini.

“Motor listrik tidak diberikan insentif tahun ini. Pertimbangannya di mana kita memahami kekuatan fiskal seperti apa. Cost and benefit mana yang paling tinggi, yang paling bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan,” ujar Agus yang kami kutip dari Kompas.com, saat menghadiri Indonesia Semiconductor Summit 2026 di Bandung, Jumat (30/1/2026).

Pertimbangan Fiskal Jadi Alasan Utama

Agus menjelaskan, Kementerian Perindustrian telah menyampaikan sejumlah usulan insentif sektor otomotif kepada Kementerian Keuangan. Namun, insentif untuk sepeda motor listrik tidak masuk dalam daftar utama karena keterbatasan ruang fiskal pemerintah pada 2026.

Menurutnya, pemerintah harus memastikan setiap kebijakan insentif memberikan dampak ekonomi yang optimal, baik terhadap pertumbuhan industri, penyerapan tenaga kerja, maupun penerimaan negara. Dalam konteks tersebut, pemerintah menilai masih terdapat sektor lain yang dinilai lebih membutuhkan dukungan fiskal.

Dengan keputusan ini, Agus berharap pasar sepeda motor listrik dapat bergerak secara lebih mandiri tanpa bergantung pada subsidi pemerintah. Kepastian kebijakan juga diharapkan memberi kejelasan bagi konsumen agar tidak menunda pembelian hanya karena menunggu insentif.

Meski tidak memberikan insentif pada 2026, Agus menegaskan pemerintah tetap berkomitmen mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik roda dua dalam jangka panjang. Peluang pemberian insentif masih terbuka pada 2027, bergantung pada hasil evaluasi lanjutan serta kondisi fiskal negara di tahun mendatang.

Pemerintah, kata Agus, terus memantau perkembangan industri kendaraan listrik nasional, termasuk tingkat adopsi di masyarakat dan kesiapan rantai pasok dalam negeri. Evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Industri Motor Listrik Tetap Optimistis

Di tengah kepastian tidak adanya subsidi, industri sepeda motor listrik nasional tetap menunjukkan optimisme menghadapi 2026. Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi menyebut, pelaku industri kini mengedepankan pendekatan yang lebih realistis dibandingkan mengejar pertumbuhan agresif.

Berdasarkan data Sistem Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan, penjualan sepeda motor listrik sepanjang 2025 tercatat sekitar 55.059 unit. Angka tersebut menjadi dasar dalam penyusunan target penjualan tahun ini.

“Tahun ini kita enggak muluk-muluk. Kalau sekarang 55.000 unit, kalau tahun 2026 kita targetkan naik 25.000 unit, berarti bisa mencapai 75.000 unit,” kata Budi dalam kesempatan terpisah.

Strategi Tanpa Subsidi Pemerintah

Budi mengatakan, dengan tidak adanya insentif pada 2026, pelaku industri akan lebih mengandalkan strategi internal, mulai dari efisiensi biaya produksi, inovasi produk, hingga penguatan layanan purna jual. Selain itu, pengembangan ekosistem pendukung seperti ketersediaan suku cadang dan kemudahan perawatan juga menjadi fokus utama.

Aismoli telah menyiapkan tiga skema proyeksi penjualan, yakni optimistis, moderat, dan pertengahan. Target 75.000 unit dinilai cukup realistis jika kondisi pasar relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Kami juga tidak terlalu berharap subsidi. Kalau sama seperti 2025, target 75.000 unit saja sudah cukup bagus. Tapi kalau kita lakukan berbagai strategi, kami optimis bisa sampai minimal 100.000 unit,” ujarnya.

Dengan kepastian kebijakan dari pemerintah, industri berharap dapat menyusun langkah bisnis secara lebih terukur dan berkelanjutan, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan sepeda motor listrik di pasar domestik meski tanpa dukungan insentif sepanjang 2026.