Kesadaran mengenai bahaya kolesterol tinggi perlu ditingkatkan karena kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala, namun berisiko memicu penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Dalam program edukasi kesehatan “Love The Beat” yang digelar bersama rumah sakit di Jakarta, penyelenggara menekankan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan kolesterol berkala dan edukasi kepada masyarakat.

Pentingnya Deteksi Dini

Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, apt. Maria Stefani, mengatakan kolesterol tinggi kerap tak disadari karena tidak selalu menimbulkan keluhan. “Kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan kolesterol secara rutin, dan pengobatan yang tepat menjadi penting untuk mencegah komplikasi,” ujarnya.

Maria menyatakan edukasi menjadi langkah utama agar masyarakat memahami faktor risiko dan langkah pencegahan yang bisa dilakukan sejak dini.

Data dan Risiko

Kepala Departemen Medis Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Reinaldo, mengutip Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menunjukkan 39,5% penduduk memiliki kadar kolesterol di atas kategori normal atau tidak aman. “Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat rentan terhadap risiko gangguan kesehatan jantung. Maka dari itu, diperlukan inisiatif dari masyarakat untuk rutin memeriksakan kadar kolesterolnya atau melakukan medical check up untuk mencegah gangguan kesehatan jantung di masa depan,” katanya.

Penjelasan dalam acara tersebut menegaskan bahwa kolesterol diperlukan tubuh untuk fungsi tertentu, tetapi kadar LDL yang berlebihan dapat menyumbat pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung serta stroke.

Pemeriksaan dan Pencegahan

dr. Reinaldo menjelaskan pemeriksaan berkala dapat meliputi profil lipid, gula darah, tekanan darah, dan pemeriksaan jantung untuk mengidentifikasi faktor risiko lebih awal sebelum muncul komplikasi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Nancy Virginia, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC, menyarankan pemeriksaan kolesterol dimulai sejak usia 20 tahun. Pemeriksaan sebaiknya mencakup kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida dengan frekuensi sesuai faktor risiko individu.

“Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh, tetapi jika kadarnya berlebihan dapat menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Kolesterol tinggi juga sering kali tidak bergejala, sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi,” kata Nancy.

Upaya pencegahan yang disarankan meliputi pola makan sehat untuk jantung, olahraga rutin minimal 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, serta mengurangi konsumsi alkohol dan rokok. Pada kondisi tertentu, terapi obat seperti statin dan terapi non-statin dapat diberikan berdasarkan evaluasi dokter.

Peran Kepatuhan Terapi

Product Manager Optima Degenerative PT Kalbe Farma Tbk, apt. Sona Karisnata Inriano, menekankan pengendalian kolesterol memerlukan komitmen jangka panjang. Selain perubahan gaya hidup, pasien perlu disiplin menjalani kontrol dan memahami penggunaan obat yang diresepkan.

“Pendekatan terapi yang tepat dan kedisiplinan pasien akan menurunkan risiko komplikasi secara optimal,” ujar Sona, seraya menambahkan bahwa pasien tidak disarankan menghentikan terapi tanpa berkonsultasi dengan dokter atau apoteker.

Dalam praktik klinis, terapi untuk pengendalian kolesterol, termasuk kombinasi obat tertentu, harus dilakukan berdasarkan resep dan pemantauan tenaga medis.