Pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss resmi dibatalkan pada Jumat (19/6/2026). Pembatalan terjadi menyusul meletusnya pertempuran intensif antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan.
Penundaan itu menimbulkan ketidakpastian terhadap kesepakatan sementara yang baru diteken awal pekan ini untuk meredakan ketegangan di kawasan dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Penundaan Dan Reaksi Pihak
Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan menunda keberangkatannya ke Swiss. Pejabat Iran menyatakan perundingan tidak dapat dilanjutkan selama eskalasi militer di Lebanon masih berlangsung.
Militer Israel menyampaikan empat tentaranya tewas, termasuk seorang letnan kolonel, setelah serangan terhadap sebuah tank di dekat kota Nabatiyeh. Sebagai respons, Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah infrastruktur Hizbullah di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa.
Posisi Pemain Utama
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menoleransi serangan terhadap pasukan atau wilayahnya. Di pihak lain, Hizbullah mengklaim aksinya sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata di titik strategis bukit Ali al-Taher.
Nasib Kesepakatan Regional
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan konsultasi melalui mediator masih berlangsung, namun pertemuan fisik dianggap tidak mendesak karena kesepakatan awal telah ditandatangani secara digital.
Kesepakatan sementara itu disebut telah membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal tanker. Meski demikian, otoritas Iran mulai mengeluarkan panduan baru bagi kapal yang melintas yang mengisyaratkan rencana penerapan tarif di masa mendatang.
Isu-isu Penghambat Perdamaian
Perundingan yang tertunda direncanakan membahas sejumlah isu krusial, termasuk program nuklir Iran. Kompleksitas negosiasi yang pernah muncul pada 2015 menjadi latar bagi pembicaraan lanjutan.
Perbedaan mengenai kehadiran pasukan Israel di zona keamanan Lebanon selatan serta kecurigaan terhadap program nuklir Iran tetap menjadi hambatan utama bagi tercapainya perdamaian permanen di kawasan.
Komunitas internasional saat ini terus memantau apakah jalur diplomasi melalui mediator dapat meredam eskalasi militer yang kembali meningkat.
Ikuti Ihram.co.id
