Netflix kembali menghadirkan sajian thriller psikologis yang menggugah lewat serial terbaru berjudul His & Hers.

Diadaptasi dari novel populer karya Alice Feeney, serial ini bukan sekadar misteri pembunuhan biasa, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang trauma, relasi yang retak, dan sisi gelap dari naluri pelindung seorang ibu.

Sinopsis dan Alur Cerita yang Berlapis

Cerita berpusat pada Anna Andrews (Tessa Thompson), seorang mantan pembawa berita yang menarik diri dari publik setelah mengalami kejadian traumatis.

Hidupnya yang stagnan terusik ketika sebuah kasus pembunuhan terjadi di Dahlonega, kota kecil tempat ia dibesarkan. Anna memutuskan pulang, bukan hanya untuk meliput sebagai jurnalis, tetapi juga untuk menghadapi luka lama yang belum sembuh sepenuhnya.

Di sisi lain, Jack Harper (Jon Bernthal), seorang detektif yang juga merupakan mantan suami Anna, ditugaskan menangani kasus tersebut.

Hubungan keduanya yang dingin dan penuh kecurigaan menambah lapisan ketegangan dalam penyelidikan. Narasi bergerak melalui dua sudut pandang yang kontras: antara logika hukum dan gejolak emosi pribadi yang sangat personal.

Kekuatan Karakter dan Akting

Chemistry antara Tessa Thompson dan Jon Bernthal menjadi fondasi kuat serial ini. Alih-alih menampilkan romansa, keduanya berhasil membangun ketegangan emosional yang membuat setiap dialog terasa memiliki beban sejarah yang berat.

Penonton diajak melihat bagaimana rahasia penduduk kota Dahlonega perlahan terkuak, membuktikan bahwa setiap orang menyimpan sisi yang tidak ingin diperlihatkan kepada dunia.

JudulHis & Hers
SutradaraWilliam Oldroyd, Anja Marquardt
Pemeran UtamaTessa Thompson, Jon Bernthal
PlatformNetflix
Tanggal Rilis8 Januari 2026

Bedah Psikologis: Cinta yang Menjadi Senjata

Salah satu aspek paling menarik dari His & Hers adalah keberaniannya membedah sosok ibu. Serial ini mempertanyakan apa yang terjadi jika cinta tanpa syarat seorang ibu dihancurkan oleh keadaan ekstrem.

Karakter ibu di sini tidak ditampilkan sebagai figur yang tabah secara konvensional, melainkan sosok yang kehilangan arah, pegangan, dan belas kasihan.

Cinta tersebut bertransformasi menjadi bahan bakar balas dendam yang dijalankan dengan kepala dingin dan hati yang mati rasa.

Sutradara William Oldroyd berhasil menyeret penonton ke dalam pemikiran gelap, di mana batas antara moralitas baik dan buruk menjadi kabur.

Saat dunia gagal melindungi apa yang paling dicintai, pemberontakan menjadi satu-satunya respons yang terasa jujur bagi para karakternya.

Meski memiliki pacing yang cenderung lambat di beberapa bagian, His & Hers tetap memikat karena fokusnya pada bedah karakter manusia ketimbang sekadar memecahkan teka-teki kriminal.

Serial ini adalah refleksi pahit tentang bagaimana cinta paling murni bisa melahirkan kekerasan paling kejam demi mempertahankan arti hidup seseorang.