— Presiden Benfica, Rui Costa, secara tegas membela gelandang mudanya, Gianluca Prestianni, dari tuduhan rasisme yang dialamatkan kepada pemain asal Argentina tersebut terkait insiden dengan bintang Real Madrid, Vinicius Junior. Costa menyatakan keyakinannya penuh bahwa Prestianni bukanlah seorang rasis dan klub akan terus memberikan dukungan penuh selama investigasi yang dilakukan oleh UEFA berlangsung.

Tuduhan rasisme ini mencuat setelah pertandingan leg pertama babak play-off Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid di Lisbon. Dalam insiden tersebut, Vinicius Junior mengklaim bahwa Prestianni melontarkan hinaan bernada rasis kepadanya setelah ia mencetak gol pembuka. Kejadian ini sempat menghentikan permainan selama hampir 10 menit karena Vinicius melaporkan insiden tersebut kepada wasit.

Benfica Bantah Keras Tuduhan Rasisme

Menanggapi situasi yang berkembang, Rui Costa menyatakan bahwa Prestianni saat ini menjadi korban dari kampanye pencemaran nama baik. “Prestianni dituduh sebagai rasis, tetapi dia sama sekali bukan rasis.

Saya bisa menjamin itu,” ujar Costa dalam konferensi pers sebelum timnya bertolak ke Madrid untuk leg kedua. Ia menambahkan bahwa klub sangat percaya pada perkataan Prestianni, serta mengenal betul karakter para pemain yang ada di klub. Pernyataan ini menegaskan bahwa Benfica tidak akan pernah menoleransi tindakan rasisme di dalam tim mereka.

Costa juga menyoroti bahwa keputusan UEFA untuk memberikan sanksi skorsing sementara satu pertandingan kepada Prestianni dianggap tidak adil. “Kami mengajukan banding karena kami memahami bahwa belum ada bukti yang terbukti. Absennya pemain dalam pertandingan ini tidak dapat dibenarkan,” tegasnya. Ia juga menyayangkan mengapa UEFA tidak mempertimbangkan insiden lain yang terjadi di lapangan, termasuk dugaan agresi yang dilakukan oleh pemain Real Madrid, Federico Valverde, terhadap Samuel Dahl, yang menurut Benfica seharusnya berujung pada skorsing.

Prestianni Bantah Lakukan Pelecehan Rasis

Sejak awal, Gianluca Prestianni telah membantah keras tuduhan tersebut. Melalui pernyataan di media sosial, pemain berusia 20 tahun itu menegaskan bahwa ia tidak pernah melontarkan hinaan rasis kepada Vinicius Junior. Ia mengklaim bahwa Vinicius salah menafsirkan apa yang ia dengar. Prestianni juga mengungkapkan penyesalannya atas ancaman yang ia terima dari para pemain Real Madrid.

Meskipun Prestianni telah dilarang bermain dalam leg kedua Liga Champions melawan Real Madrid karena sanksi sementara dari UEFA, ia tetap ikut terbang bersama tim ke Madrid. Klub berharap banding yang diajukan dapat membatalkan sanksi tersebut, meskipun mereka mengakui kecilnya kemungkinan hal itu terjadi sebelum pertandingan leg kedua.

Klub Berpegang Teguh pada Prinsip Anti-Rasisme

Rui Costa menegaskan bahwa insiden ini sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai Benfica sebagai klub yang inklusif dan anti-rasis. “Kejadian ini sama sekali tidak memengaruhi apa yang Benfica yakini sebagai klub yang inklusif, sebagai klub anti-rasis, dan klub yang tidak akan pernah mengizinkan pemain rasis berada di dalam skuad. Ini adalah poin yang ingin saya sampaikan dengan sangat jelas,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa klub akan selalu membela Prestianni, bukan hanya karena ia adalah pemain mereka, tetapi karena keyakinan klub akan karakternya.

Benfica juga telah menyatakan penyesalannya karena tidak dapat menurunkan Prestianni dalam pertandingan penting ini selagi kasusnya masih dalam investigasi. Klub berjanji akan bekerja sama sepenuhnya dengan UEFA dalam proses penyelidikan untuk mencari kebenaran. Sementara itu, investigasi UEFA masih terus berlanjut, dan jika terbukti bersalah, Prestianni dapat menghadapi sanksi larangan bermain hingga 10 pertandingan.