— Final Piala Super Spanyol 2026 di Jeddah seharusnya menjadi panggung pembuktian bagi Xabi Alonso. Namun, kekalahan 2-3 dari Barcelona justru menyingkap tabir gelap yang selama ini tertutup rapat di ruang ganti Santiago Bernabeu: Xabi Alonso bukan lagi pemegang kendali tertinggi di timnya sendiri.

Momen paling ikonik sekaligus menyakitkan terjadi sesaat setelah peluit panjang berbunyi. Di tengah hiruk-pikuk perayaan gelar juara rival abadi mereka, dikutip dari Forbes, Kylian Mbappe dilaporkan secara terbuka memaksa Alonso untuk menolak memberikan guard of honour (penghormatan juara) kepada Barcelona.

Perintah sang megabintang Prancis itu dijalankan, dan seketika itu pula wibawa Alonso sebagai pelatih dianggap runtuh.

Dominasi Bintang di Atas Taktik

Kepergian Xabi Alonso yang diumumkan secara resmi pada Selasa (13/1/2026) dini hari WIB memang terkesan mendadak.

Namun, bagi pengamat sepak bola Spanyol, Guillem Balague, insiden dengan Mbappe hanyalah puncak gunung es dari retaknya hubungan sang pelatih dengan skuad bertabur bintang tersebut.

Menurut Balague, otoritas Alonso di ruang ganti telah terkikis perlahan sejak beberapa bulan terakhir.

Sebelum insiden Mbappe, publik sempat menyaksikan Vinicius Junior melakukan protes keras dengan nada marah kepada Alonso di tengah pertandingan, sebuah tindakan yang jarang terlihat di era kepelatihan sebelumnya.

“Alonso merasa sudah cukup. Momen Mbappe menolak instruksi klub dan pelatih soal guard of honour menunjukkan bahwa suara pemain bintang kini lebih didengar ketimbang taktik pelatih,” tulis Balague dalam kolom terbarunya.

Kurang Dukungan Manajemen dan Transfer yang Meleset

Masalah Alonso tidak hanya datang dari pemain, tetapi juga dari lantai atas manajemen. Florentino Perez dinilai tidak memberikan kepercayaan penuh kepada pria berusia 44 tahun tersebut.

Salah satu poin gesekan utama adalah kebijakan transfer yang tidak sinkron dengan kebutuhan skema Alonso.

Kegagalan memboyong Martin Zubimendi dari Real Sociedad menjadi pukulan telak bagi rencana jangka panjang Alonso.

Di sisi lain, kehadiran pemain muda seperti Franco Mastantuono yang belum juga bersinar menambah beban taktis di lapangan. Kondisi ini diperparah dengan jadwal padat Piala Dunia Antarklub 2025 yang harus dilalui Alonso tanpa persiapan matang.

Hasilnya pun berbicara di lapangan. Real Madrid harus menelan pil pahit setelah didepak PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub dan dibantai 2-5 oleh rival sekota, Atletico Madrid, di kompetisi LaLiga.

Statistik dan Era Baru Arbeloa

Meski sempat membawa harapan besar setelah kesuksesan fenomenalnya di Bayer Leverkusen, perjalanan Alonso di Madrid berakhir prematur hanya dalam waktu tujuh bulan.

Total, ia memimpin Los Blancos dalam 34 pertandingan dengan catatan yang sebenarnya tidak terlalu buruk namun tidak cukup untuk standar Madrid.

Statistik Xabi AlonsoJumlah
Total Pertandingan34 Laga
Kemenangan24 Kali
Hasil Imbang4 Kali
Kekalahan6 Kali

Kini, manajemen Real Madrid bergerak cepat untuk menambal kekosongan kursi kepelatihan. Sosok Alvaro Arbeloa telah ditunjuk untuk menggantikan posisi Alonso dan memimpin skuad di sisa musim ini.

Tugas besar menanti Arbeloa: menjinakkan ego para pemain bintang dan mengembalikan marwah kepelatihan di Valdebebas.