Ihram.co.id — Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, mengungkapkan bahwa kemenangan timnya atas Manchester City dalam leg kedua babak 16 besar Liga Champions pada Rabu (18/3/2026) dini hari WIB, lebih disebabkan oleh kualitas individu para pemainnya ketimbang keunggulan strategi taktis.
Real Madrid berhasil menyingkirkan Manchester City dengan agregat 5-1 setelah memenangkan pertandingan di Stadion Etihad dengan skor 2-1. Keberhasilan ini dicapai meski Madrid dilanda badai cedera yang menimpa pemain kunci seperti Kylian Mbappe, Jude Bellingham, dan Rodrygo.
Arbeloa, yang baru menjalani musim perdananya di level elite, menolak anggapan bahwa dirinya mampu mengalahkan pelatih berpengalaman seperti Pep Guardiola dalam adu taktik. Ia menegaskan bahwa pengalaman dan rekam jejak Guardiola sebagai pelatih kelas dunia tidak dapat diragukan.
“Saya tidak berani mengatakan saya bisa mengalahkan Pep Guardiola dalam hal taktis,” ujar Arbeloa, dilansir dari AP. Ia menambahkan bahwa Guardiola adalah pelatih elite dengan segudang trofi di Eropa.
Kualitas Individu Jadi Penentu
Menurut Arbeloa, keberhasilan Real Madrid tidak hanya menyingkirkan Manchester City, tetapi juga sebelumnya menundukkan tim kuat lainnya di babak playoff, membuktikan bahwa ia memiliki deretan pemain yang luar biasa. Ia menekankan bahwa kualitas individu para pemainnya yang menjadi faktor penentu kemenangan.
“Ini adalah para pemain yang telah membalikkan keadaan ini dengan penampilan, sikap, upaya, bakat, dan kualitas mereka,” kata Arbeloa. Ia menambahkan, “Memenangkan pertandingan seperti hari ini tidaklah mudah dalam pertandingan yang begitu menantang melawan tim seperti ini, dengan begitu banyak pemain berbakat, skuad yang dalam, dan pelatih seperti yang kami hadapi.”
Arbeloa juga menyoroti pentingnya mentalitas tim. Ia percaya bahwa untuk mengalahkan tim sekelas Manchester City, Real Madrid harus tampil sebagai satu kesatuan yang solid dan bersatu dalam upaya serta kerja sama. “Pemain telah sepenuhnya memahami bahwa untuk mengalahkan siapa pun, kita harus menjadi tim yang hebat, sangat bersatu dalam upaya dan kerja,” tegasnya.
Respons Pep Guardiola dan Tekanan
Di sisi lain, Pep Guardiola mengakui bahwa timnya menghadapi kesulitan setelah Bernardo Silva diganjar kartu merah pada menit ke-20 karena melakukan handball di garis gawang. Situasi ini membuat Manchester City bermain dengan sepuluh orang melawan sebelas pemain Real Madrid.
“Sulit ketika Anda tertinggal 4-0 dan bermain dengan sepuluh orang melawan sebelas. Tapi kami melakukan segalanya,” kata Guardiola kepada Amazon Prime. Ia menambahkan, “Ini sedikit merupakan pembelajaran. Tapi seharusnya 11 lawan 11. Tapi kita tidak pernah tahu. Mungkin kami kalah 6-0, tapi itulah faktanya.”
Guardiola juga mengungkapkan adanya tekanan yang ia rasakan terkait ekspektasi klub. Ia menyatakan bahwa publik sering menganggapnya gagal jika tidak mampu meraih semua trofi, padahal kontraknya masih tersisa satu musim. “Semua orang ingin memecat saya, bukan?” katanya menanggapi pertanyaan mengenai masa depannya.
Guardiola memuji semangat luar biasa anak asuhnya meskipun harus bermain dengan sepuluh pemain. Ia menekankan bahwa timnya memiliki skuad yang luar biasa dan masa depan yang cerah. “Kami akan kembali musim depan. Kami akan belajar dari kekalahan ini,” ujarnya.
Rekor Pertemuan dan Masa Depan Arbeloa
Hasil ini memperpanjang catatan buruk Manchester City saat bertemu dengan Real Madrid di Liga Champions. Dalam lima tahun terakhir, Real Madrid telah empat kali mengeliminasi City, dengan pengecualian pada tahun 2023 ketika City keluar sebagai juara.
Performa impresif Arbeloa bersama Real Madrid, termasuk menyingkirkan Manchester City, membuatnya menjadi kandidat kuat untuk posisi pelatih permanen. Laporan menyebutkan bahwa ia kini menjadi favorit untuk menjadi pelatih Real Madrid musim depan dengan odds 7/4.
Arbeloa sendiri enggan mengambil kredit pribadi atas kemenangan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah buah kerja keras dan kualitas dari para pemainnya. “Ini adalah para pemain yang membuat ini terjadi, dengan bakat dan kerja keras mereka, bukan saya,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa tugasnya adalah membantu para pemain merasa nyaman dan menemukan posisi terbaik mereka di lapangan.
Ikuti Ihram.co.id
