Ihram.co.id — Pembalap Yamaha, Fabio Quartararo, mengungkapkan dirinya memberikan saran khusus kepada rookie MotoGP Toprak Razgatlioglu yang mengalami kesulitan adaptasi selama tes pramusim MotoGP 2026 di Sirkuit Buriram, Thailand.
Quartararo menilai juara dunia World Superbike itu terlihat frustrasi saat beradaptasi dengan motor prototipe MotoGP, terlebih karena performa motor Yamaha yang masih belum kompetitif dibanding rival.
Razgatlioglu menjalani musim debut di kelas premier bersama tim satelit Yamaha, Pramac Racing, setelah sebelumnya meraih sukses besar di ajang World Superbike. Namun transisi ke MotoGP terbukti tidak mudah, terutama di tengah fase pengembangan motor Yamaha.
“Perhatian utama saya adalah membantu dia, bukan diri saya sendiri. Saya mengenal Toprak sebagai pembalap yang terbiasa finis di tiga besar di Superbike, dan di sini saya melihat dia cukup putus asa,” ujar Quartararo kepada wartawan usai tes, yang kami kutip dari Crash.net, Senin (23/2).
Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Diminta Pramac Ubah Gaya Balap demi Adaptasi ke Yamaha M1
Bergabung di Waktu Sulit bagi Yamaha
Menurut Quartararo, waktu kedatangan Razgatlioglu ke MotoGP kurang ideal karena Yamaha sedang berada dalam periode sulit. Pabrikan Jepang itu tengah melakukan pengembangan besar-besaran, termasuk proyek mesin V4 baru untuk meningkatkan daya saing motor.
Hasil tes pramusim di Buriram menunjukkan Yamaha masih tertinggal dari rival seperti Ducati dan Aprilia dalam hal kecepatan lap maupun simulasi balapan. Kondisi ini membuat adaptasi Razgatlioglu semakin menantang.
Quartararo menekankan bahwa kesulitan yang dialami pembalap Turki tersebut merupakan hal wajar bagi pendatang baru di kelas premier.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa perasaan seperti itu sangat normal. Dia perlu waktu untuk belajar, terutama soal karakter ban dan motor MotoGP yang sangat berbeda,” kata juara dunia MotoGP 2021 tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa para pembalap Yamaha saat ini berada dalam situasi yang sama sehingga saling mendukung menjadi hal penting.
Adaptasi Teknis dan Tantangan Fisik
Peralihan dari World Superbike ke MotoGP dikenal sebagai salah satu transisi tersulit dalam balap motor. Motor MotoGP menggunakan teknologi prototipe dengan perangkat elektronik lebih kompleks, aerodinamika canggih, serta karakter ban berbeda dibanding motor produksi massal di Superbike.
Razgatlioglu sebelumnya membandingkan situasi debutnya di MotoGP dengan musim pertamanya di World Superbike. Saat itu ia sempat mengalami kesulitan sebelum berkembang dan akhirnya meraih tiga gelar juara dunia Superbike (2021, 2024, 2025).
Selain faktor teknis, postur tubuh Razgatlioglu yang menjadi salah satu pembalap tertinggi di grid MotoGP juga menjadi tantangan tambahan. Tim harus menyesuaikan konfigurasi motor, termasuk modifikasi pada bagian aerodinamika belakang untuk memenuhi regulasi dimensi dan meningkatkan kenyamanan berkendara.
Selain Quartararo, pembalap Yamaha lainnya, Jack Miller, juga turut membantu proses transisi Razgatlioglu. Miller menyatakan siap memberikan dukungan jika diperlukan, meski menilai pembalap berusia 29 tahun itu tidak membutuhkan mentor khusus.
Sementara itu, mantan bos tim MotoGP Francesco Guidotti sebelumnya menyebut Razgatlioglu memiliki potensi besar untuk sukses di MotoGP apabila mampu beradaptasi dengan karakter motor dan tuntutan teknis kelas premier.
Baca Juga: Toprak Razgatlioglu Dinilai Satu-satunya Rider Superbike yang Mampu Adaptasi di MotoGP
Musim 2026 Jadi Tahun Pembelajaran
MotoGP 2026 diperkirakan menjadi musim pembelajaran bagi Razgatlioglu bersama Yamaha dan Pramac Racing. Dengan pengalaman satu musim penuh serta rencana perubahan regulasi teknis MotoGP pada 2027, performa pembalap Turki itu diperkirakan baru akan terlihat maksimal dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, Yamaha juga masih fokus pada pengembangan motor untuk kembali bersaing di barisan depan. Meski menghadapi awal yang sulit, perkembangan Razgatlioglu sepanjang musim diyakini akan menjadi salah satu sorotan utama MotoGP 2026.
Ikuti Ihram.co.id
