Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membuka peluang merevisi target pertumbuhan premi industri asuransi umum untuk 2026. Perlambatan pada beberapa lini bisnis utama serta ketidakpastian ekonomi global dinilai membatasi prospek pertumbuhan premi tahun ini.
Berdasarkan data AAUI, produksi premi asuransi umum pada kuartal I-2026 tercatat tumbuh 1,92% secara tahunan menjadi Rp 31,11 triliun. Pertumbuhan tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama.
Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset, dan Analisis AAUI Heri Supriyadi mengatakan pertumbuhan premi tertahan karena kinerja tiga lini usaha yang masih terbatas: asuransi properti, kendaraan bermotor, dan kredit.
Untuk asuransi properti, premi tercatat Rp 8,31 triliun atau tumbuh 6,5% yoy. Heri mencatat kinerja ini masih dipengaruhi lesunya sektor properti, sejalan dengan data survei harga dan penjualan properti residensial pada kuartal I-2026.
Di segmen kendaraan bermotor, premi meningkat 2,9% yoy menjadi Rp 5,39 triliun. Pertumbuhan premi kendaraan mengikuti tren penjualan kendaraan baru, di mana penjualan mobil baru naik tipis sementara penjualan sepeda motor menunjukkan kontraksi.
Premi asuransi kredit tercatat tumbuh 3,2% yoy menjadi Rp 4,10 triliun. Heri menyebut bank tetap mencatat pertumbuhan kredit, namun meningkatnya risiko dan rasio kredit bermasalah membuat perusahaan asuransi lebih selektif dalam menerima bisnis baru.
Peluang Konsolidasi BUMN
Meski menghadapi tekanan, AAUI menyambut potensi konsolidasi perusahaan asuransi BUMN yang sedang dipersiapkan pemerintah melalui Danantara Indonesia. Asosiasi menilai konsolidasi tersebut dapat meningkatkan kualitas industri dan menciptakan entitas yang lebih besar serta kompetitif.
“Konsolidasi asuransi dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan menciptakan value creation. Jadi tidak ada istilah koreksi target, yang ada justru optimistis akan menjadi lebih baik,” kata Heri dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menambahkan industri juga menghadapi tuntutan pemenuhan modal minimum dan implementasi standar akuntansi terbaru, yang mendorong perusahaan memperkuat permodalan lewat pertumbuhan bisnis.
Budi menyoroti faktor eksternal lain yang membayangi, termasuk konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian geopolitik, yang berdampak pada rencana ekspansi pelaku usaha dan permintaan asuransi. “Jadi agak sulit memang karena kondisinya tidak kondisi normal,” ujarnya.
Dengan berbagai tantangan tersebut, AAUI mengakui target pertumbuhan premi yang semula dipatok 3–6% untuk 2026 berpotensi ditinjau ulang. Revisi akan dipertimbangkan setelah evaluasi kinerja industri pada kuartal II-2026.
Kendati demikian, Budi menegaskan industri masih berharap pertumbuhan premi tetap di zona positif hingga akhir tahun. “Mudah-mudahan tidak (negatif) ya. Tapi saya menyikapi ini dengan bijak tentunya. Ya harapannya sih kita harus positif kita harus optimis,” tutupnya.
Ikuti Ihram.co.id
