Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Mata uang domestik ditutup di Rp 17.801 per dolar AS, turun tujuh poin dari level penutupan sebelumnya Rp 17.794.

Menurut Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, pelemahan terjadi meski sentimen global membaik setelah penandatanganan kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang dimaksudkan untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah dan memulihkan kapal lewat Selat Hormuz.

Ibrahim mencatat, di sisi lain, serangan udara militer Israel pada Kamis pagi menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan kesepakatan perdamaian itu.

— “Prospek ekspor yang kembali meningkat telah menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang telah mendorong harga minyak di atas $120 per barel pada puncak krisis,” ujar Ibrahim.

Tekanan juga datang dari kebijakan moneter AS. Ibrahim menyebutkan bahwa pernyataan pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali hingga akhir 2026 turut mendongkrak imbal hasil obligasi pemerintah dan menguatkan dolar AS.

“The Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah pada hari Rabu, tetapi komentar dari Ketua Kevin Warsh ditafsirkan oleh pasar sebagai sangat agresif, meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah dan mengangkat dolar AS ke level terkuatnya dalam lebih dari setahun,” kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, rupiah juga tertekan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menempatkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan Global Market Accessibility Review 2026.

MSCI mengambil keputusan itu setelah kembali menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi adanya perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham Indonesia, menurut keterangan yang dikutip Ibrahim.