Langkah strategis PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merombak portofolio melalui akuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore — kini bernama Aster — menunjukkan hasil nyata. Perusahaan berhasil mengurangi ketergantungan pada siklus petrokimia dan berkembang ke bisnis energi serta infrastruktur terintegrasi.
Transformasi itu, menurut analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik, berlangsung pesat dalam tiga tahun terakhir dan mengubah peta finansial perseroan. Dari pengelola aset petrokimia senilai US$ 1,8 miliar yang sempat mencatat margin negatif pada 2022–2024, Chandra Asri kini menjadi platform multi-sektor dengan proyeksi pendapatan antara US$ 7 miliar hingga US$ 10 miliar.
Peran Aster Dalam Diversifikasi Pendapatan
Akuisisi Aster pada 2025 menyediakan kilang dengan kapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker etilena 1,1 juta ton per tahun. Menurut Nizam, aset tersebut efisien mendiversifikasi sumber pendapatan yang sebelumnya bergantung pada spread petrokimia.
Perubahan struktural langsung tercermin pada kontribusi segmen bisnis. Pada kuartal I-2026, segmen energi menyumbang 55% dari pendapatan konsolidasi, mengungguli kimia sebesar 42% dan infrastruktur 3%. Perpindahan ini sejalan dengan capaian kinerja yang meningkat, yaitu laba operasi (EBIT) tercatat US$ 468 juta dan laba bersih US$ 205 juta pada kuartal tersebut.
Manuver Keuangan dan Sinergi Bisnis
Pembelian Aster melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dilakukan dengan investasi sebesar US$ 255 juta. Nilai ini jauh di bawah nilai buku awal US$ 933 juta, yang menghasilkan bargain purchase gain dan memperkuat permodalan perusahaan.
Selain itu, integrasi hulu-ke-hilir kian lengkap setelah akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso, menciptakan rantai nilai mulai dari pemurnian di kilang hingga penjualan ke konsumen akhir.
Rencana Ekspansi dan Penguatan Infrastruktur
Chandra Asri melanjutkan ekspansi lewat proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) senilai US$ 800 juta di Cilegon, yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA). Proyek ini ditargetkan beroperasi pada 2027 untuk memasok industri nikel domestik dan pasar PVC global.
Sektor infrastruktur, yang dikelola melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), juga diperkuat untuk mengelola layanan air industri, energi, dan logistik pelabuhan. CDIA disebut menjadi penopang pendapatan yang lebih stabil dibanding bisnis petrokimia hulu.
Kondisi Keuangan Perusahaan
Gabungan strategi tersebut membawa fundamental Chandra Asri ke kondisi yang lebih sehat pada kuartal I-2026. Total aset naik menjadi US$ 12,5 miliar dibandingkan US$ 5,7 miliar pada 2024, ekuitas meningkat menjadi US$ 4,86 miliar, dan margin EBIT tercatat 19,5%.
Kinerja keuangan ini juga didukung oleh kondisi pasar kilang di Singapura yang mempertahankan margin di atas US$ 10 per barel, menurut catatan perusahaan. Di pasar modal, porsi saham publik (free float) meningkat menjadi 25,7% sementara kepemilikan mayoritas tetap di tangan Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil yang menguasai 74,3% saham.
“Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan,”
Perusahaan menempatkan akuisisi Aster sebagai titik balik strategis yang memperluas kapasitas operasional dan memperkokoh posisi di pasar regional. Dengan beberapa proyek yang masih berjalan, manajemen tampak fokus menjaga momentum pertumbuhan sambil memperkuat lini bisnis yang lebih stabil.
Ikuti Ihram.co.id
