Penurunan harga minyak dunia pascaperdamaian antara Iran dan AS memicu pertanyaan publik tentang kemungkinan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU. Namun, sejumlah ekonom menegaskan bahwa penyesuaian harga di dalam negeri tidak berlangsung seketika meski pasar global melandai.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan harga jual BBM di SPBU dipengaruhi lebih dari sekadar harga minyak mentah. “Harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata, melainkan merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak,” ujarnya.
Perhitungan Rata-Rata Dan Mekanisme
Menurut Josua, perhitungan harga memakai rata-rata periode tertentu sehingga tidak mengikuti fluktuasi harian. Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, harga lebih merupakan keputusan kebijakan negara yang mempertimbangkan daya beli masyarakat dan kemampuan APBN.
“Bukan langsung diteruskan sebagai penurunan harga di SPBU. Sementara untuk BBM nonsubsidi, penyesuaian lebih mengikuti mekanisme pasar, tetapi tetap tidak bergerak harian karena memakai formula resmi dan pengawasan pemerintah; oleh karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah harga BBM harus turun, melainkan seberapa transparan pemerintah dalam mengkomunikasikan komponen-komponen perhitungan harga tersebut kepada publik agar tidak mudah dipolitisasi,” kata Josua.
Harga Keekonomian Pertamax
Berdasarkan perhitungan Josua, harga keekonomian ideal Pertamax saat ini berada di kisaran Rp 16.500 per liter, atau sekitar Rp 250 lebih tinggi dibandingkan harga jual yang berlaku. “Dengan harga jual baru Rp 16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp 250 per liter,” ungkapnya.
Ia menyatakan tingginya harga keekonomian disebabkan lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN sebesar US$ 70 per barel, serta depresiasi nilai tukar rupiah yang menambah biaya impor energi. Kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter menurutnya merupakan koreksi yang perlu untuk mengurangi tekanan keuangan yang ditanggung Pertamina akibat penahanan harga.
“Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp 12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina,” kata Josua.
Proyeksi Penurunan Harga
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, menilai perdamaian antara Iran dan AS menjadi sentimen positif yang bisa menekan harga minyak dunia. Namun, ia menekankan penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
“Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp 12.300 lagi tidak akan secepat itu,” ujar Yayan. Ia memperkirakan koreksi harga minyak akan berlangsung bertahap, dengan koreksi harian sekitar 1%–3% dalam beberapa bulan ke depan.
Yayan menambahkan dinamika harga Brent saat ini menunjukkan pelemahan dan kemungkinan terus turun hingga awal Juli sebelum berbalik naik pada Agustus hingga September seiring perubahan musiman. Ia juga menyebut kenaikan produksi minyak AS sebagai faktor yang menahan lonjakan harga pascaperdamaian, dengan proyeksi rentang harga minyak dunia hingga akhir tahun berada di kisaran US$ 80–90 per barel.
Ikuti Ihram.co.id
